Fakta Menarik Duel Ajax vs PSV, De Topper Edisi ke-176

BACA JUGA

Banner Baru Gamespool

Football5star.com, Indonesia – Ajax vs PSV di akhir pekan ini menjadi salah satu tontonan menarik untuk pencinta sepak bola. Duel kedua tim dengan tajuk De Topper edisi ke-176 ini akan berlangsung di Amsterdam ArenA, Minggu (24/10/2021).

- Advertisement -

Kedua tim datang dengan hasil berbeda di partai tengah pekan lalu. Ajax sebagai tuan rumah tengah berada di kondisi kepercayaan cukup bagus setelah meraih kemenangan telak 4-0 atas Borussia Dortmund di Liga Champions.

Permainan impresif AFC Ajax saat menang 4-0 atas Borussia Dortmund memesona Rafael van der Vaart.
Getty Images

Sedangkan PSV tersungkur oleh AS Monaco dengan skor 1-2 di babak fase grup B Liga Europa. Hasil ini tentu saja membuat kondisi kepercayaan diri anak asuh Roger Schmidt kurang cukup bagus.

Namun terlepas dari hasil pertemuan kedua tim di kompetisi Eropa, pertandingan De Topper, Ajax vs PSV selalu hadirkan pertarungan sengit antara kedua pemain.

Ajax vs PSV, Fakta Menarik De Topper Edisi ke-176

Dipimpin Wasit Berdarah Turki

Laga Ajax vs PSV pada akhir pekan ini oleh wasit berdarah Turki, Serdar Gözübüyük. Wasit berusia 35 tahun ini seperti dikutip Football5star.com dari knvb.nl, Jumat (22/10/2021) akan dibantu oleh Joost van Zuilen dan Johan Balder sebagai asisten wasit.

Ajax vs PSV
alchetron.com

Sedangkan untuk ofisial keempat laga Ajax vs PSV adalah Jeroen Manschot. Untuk tim VAR pada laga ini terdiri dari Rob Dieperink dan Sander van Roekel. Dari 3 pertandingan terakhir PSV yang dipimpin oleh Gözübüyük, anak asuh Roger Schmidt meraih 2 kemenangan dan 1 kekalahan.

Sementara Ajax pada musim ini, meraih 1 kali kemenangan saat dipimpin oleh Serdar Gözübüyük.

Ajax Lebih Diuntungkan Main Kandang?

Secara statistik, Ajax memiliki catatan lebih baik jika melawan PSV di kandang sendiri. Di laga Ajax vs PSV, Ajax rata-rata meraih 1,8 poin dari 1,0 dari sistem tiga poin kemenangan.

Namun yang menjadi catatan, Ajax mengalami kekalahan kandang terbesar di dua musim yakni musim 2004-05 dan musim ini yakni kalah empat gol tanpa balas dari PSV. Sementara kemenangan kandang terbesar Ajax terjadi pada 1964-65 dengan skor 5-0.

Ajax vs PSV

Untuk catatan gol kedua tim, PSG mencetak 265 kali atau rata-rata 1,61 gol per pertandingan. Sementara untuk Ajax, mencetak 286 gol atau rata-rata 1,73 gol per pertandingan. Dengan catatan ini laga Ajax vs PSV dipastikan akan berlangsung cukup sengit.

Pemain didikan vs pemain jadi

Ajax dikenal sebagai salah satu klub yang membangun pondasi kesuksesan mereka dengan fokus membina pemain muda. Akademi Ajax sudah dikenal sebagai salah satu akademi sepak bola terbaik di dunia.

Tak terhitung jumlahnya para pemain bintang yang merupakan jebolan dari akademi Ajax. Dari musim ke musim, meski Ajax ditinggal pemain bintangnya, akademi mereka masih mampu lahirkan banyak calon bintang baru.

Ajax vs PSV

Hal berbeda justru terlihat dari PSV. Klub yang disponsori dan dibangun oleh perusahaan elektronik tersebut justru membangun pondasi kejayaan mereka dengan kemampuan para pemain jadi. Sejumlah pemain bintang memang jadi incaran tim yang berdiri sejak 1913 tersebut.

Di era 90 hingga 2000-an, PSV sukses datangkan para pemain bintang ke Philips Stadion. Mulai dari Ronaldo Lima, Ruud Gullit, Jaap Stam, Arjen Robben, bahkan ada nama Park Ji-sung dan Lee Young-pyo yang juga pernah menjadi bagian dari skuat PSV yang menjuarai Eredivisie pada musim 2002-2003 dan 2004-2005.

PSV anti Ajax

Meski laga De Klassiker antara Ajax vs Feyenoord disebut-sebut sebagai laga terpanas di Eredivise, namun PSV merupakan klub yang sebenarnya sangat anti dengan Ajax.

Takkala Ajax mengusung skema Total Football di era 60-an yang diprakarsai oleh Rinus Michels. PSV jadi klub Belanda yang terang-terangan ogah untuk mengikuti skema tersebut. PSV bahkan berusaha semaksimal mungkin munculkan skema tandingan.

Erik ten Hag - Erling Haaland - Ajax - uefa. com 3
uefa.com

Pada 1970-an PSV yang dilatih oleh Kees Rijvers muncul dengan skema yang berbeda. Meski jika ditelaah lebih lanjut skema 4-2-3-1 milik Rijvers tak jauh berbeda dengan skema 4-3-3 total football milik Ajax.

Formasi Rijvers terus dipertahankan oleh PSV cukup lama. Bahkan saat Guus Hiddink melatih klub ini, skema yang sama juga diterapkan oleh mantan pelatih timnas Korea Selatan tersebut.

Meski tak mendunia seperti skema Total Football milik Ajax, setidaknya skema PSV mampu mengantarkan klub ini berjaya di kompetisi lokal. Di era 70-an, PSV dengan skema ini meraih 3 gelar Eredivisie, dua gelar Piala KNVB, dan satu Piala UEFA.

Persaingan suporter

Hampir sama dengan banyak big match di kompetisi Eropa, pertemuan Ajax vs PSV juga hadirkan rivalitas tak kalah sengit dari barisan suporter. Bagi suporter PSV, laga melawan Ajax akan jadi tempat untuk menyebut diri mereka dengan panggilan boeren alias petani.

Sebutan ini bukan untuk menganggap diri mereka buruk di mata Ajax dan penggemarnya, justru sebagai bentuk perlawanan. Sebutan boeran dimaksudkan sebagai kebanggan suporter PSV atas latar belakang mereka sebagai orang Brabantian.

Ajax vs PSV

Sekedar informasi, Brabantian merupakan wilayah di utara Belanda yang berbatasan dengan Belgia. Di zaman dahulu, masyarakat daerah ini berprofesi sebagai seorang petani.

Sedangkan bagi suporter Ajax, rivalitas dengan PSV memang tidak sesengit melawan suporter Feyenoord atau dengan suporter Utrecht. Bahkan jika disuruh memilih, suporter Ajax lebih memilih adu otot dengan suporter ADO Den Haag dibanding dengan PSV.

- Advertisement -

More From Author

- Advertisement -

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img