Alexandre Polking: Piala AFF Bahayakan Pemain!

BACA JUGA

Football5Star.com, Indonesia – Alexandre Polking, pelatih timnas Thailand, menyebut Piala AFF sebagai turnamen yang membahayakan pemain. Hal itu diungkapkan dengan merujuk pada format yang digunakan saat ini, yaitu kandang-tandang dengan semua tim 2 kali jadi tuan rumah pada fase grup.

Format tersebut menuntut setiap tim melakukan perjalanan melelahkan. Setelah pertandingan, sebuah tim harus terbang lagi pada keesokan harinya, entah untuk tandang ke markas tim lawan atau pulang untuk menjalani laga kandang. Dua hari kemudian, mereka kembali bermain.

Perjalanan yang harus dilakukan terus-menerus sepanjang Piala AFF 2022 dikeluhkan Alexandre Polking.
Facebook Changsuek
- Advertisement -

Waktu perjalanan itu jelas-jelas mengurangi masa pemulihan fisik pemain. Ujung-ujungnya, pemain jadi lebih rentan cedera. Thailand mengalami kerugian itu saat Teerasil Dangda cedera hamstring pada leg II semifinal melawan Malaysia. Akibatnya, sang bomber pun absen pada 2 laga final menghadapi Vietnam.

Alexandre Polking terang-terangan lebih menyukai turnamen terpusat seperti pada edisi Piala AFF 2022. Kala itu, karena pandemi, turnamen digelar di Singapura. “Jika bisa dilangsungkan di satu negara, tentu akan bagus. Tak perlu terbang dan menghabiskan lebih bantak waktu,” ujar dia seperti dikutip Football5Star.com dari Matichon Online.

Teerasil Dangda tak dalam kondisi prima jelang leg I final Piala AFF 2022.
Facebook Changsuek

ALexandre Polking Usulkan Format Lama

- Advertisement -

Selain pada edisi 2020 yang digelar pada 2021-2022, format serupa pernah dipakai pada tiga edisi awal yang kala itu masih bernama Piala Tiger. Pada edisi 1996, 1998, dan 2000, turnamen ini secara beruntun digelar di Singapura, Vietnam, dan Thailand.

Jikapun ingin tetap mengakomodasi antusiasme suporter di negara-negara seperti Malaysia, Indonesia, Vietnam, dan Thailand, Alexandre Polking mengusulkan fase grup tetap terpusat. “Fase grup dilakukan dengan satu tuan rumah. Lalu, pada fase gugur, barulah dilakukan kandang-tandang. Itu akan mengurangi perjalanan,” kata dia.

Alexandre Polking tak menyukai sistem kandang-tandang pada Piala AFF yang membuat setiap tim melakukan banyak perjalanan.
Facebook Changsuek
- Advertisement -

Format yang diusulkan Polking tersebut juga tidaklah baru. Pada 2002 hingga 2016, dua tim jadi tuan rumah untuk masing-masing grup. Bedanya, pada Piala AFF 2002, semifinal dan final dilakukan terpusat di salah satu tuan rumah fase grup, yakni Indonesia.

Di Piala AFF 2022, timnas Thailand menjalani 8 pertandingan dalam kurun waktu 28 hari. Jelang final, Polking sempat menyebut Vietnam diuntungkan karena menjalani leg II semifinal dan leg I final di kandang sendiri. Dia menilai The Golden Star Warriors punya waktu pemulihan lebih banyak dibanding timnya.

- Advertisement -

More From Author

- Advertisement -

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img