Nostalgia Hari Ini: Bikin Uni Soviet Mati Kutu, Timnas Indonesia Hebohkan Dunia

BACA JUGA

Banner Baru Gamespool

Football5Star.com, Indonesia – Timnas Indonesia sempat bikin heboh saat berhasil membuat Uni Soviet mati kutu dalam pertandingan 29 November 1956. Bahkan, aksi Indonesia saat itu mendapat pujian langsung dari FIFA.

- Advertisement -

Pertarungan itu terjadi pada Olimpiade 1956 yang dihelat di Melbourne. Kedua kesebelasan bersua dalam babak perempat final di Stadion Olympic Park. Uni Soviet yang diperkuat kiper legendarisnya, Lev Yashin, jelas diunggulkan menghadapi Indonesia.

Nostalgia Hari Ini: Bikin Uni Soviet Mati Kutu, Timnas Indonesia Hebohkan Dunia
Via GNFI

Akan tetapi, tak diunggulkan justru bikin permainan timnas Indonesia justru lebih lepas. Anak asuh Antun Pogacnik itu secara mengejutkan. Di depan 8 ribu penonton, Indonesia malah sukses menahan imbang Uni Soviet tanpa gol hingga 90 menit.

- Advertisement -

Jelas, hasil itu langsung jadi perbincangan luas. Sebab, ini adalah laga resmi ke-22 Uni Soviet. Menariknya, cuma dua pertandingan yang membuat mereka kala itu gagal mencetak gol.

Nostalgia Hari Ini: Bikin Uni Soviet Mati Kutu, Timnas Indonesia Hebohkan Dunia
Instagram Galeri Sejarah via Twitter Tukang Pulas

Pertandingan pertama tepat dua bulan sebelumnya, pada 29 September. Saat itu Uni Soviet takluk 0-1 dari Hongaria. Lalu, setelah ditahan imbang timnas Indonesia, Uni Soviet jua gagal mencetak gol di Piala Dunia 1958, 15 Juni kalah 0-2 dari Brasil.

Timnas Indonesia Tuai Pujian

- Advertisement -

Saat itu, aksi pasukan Pogacnik tersebut menuai pujian. FIFA bahkan sampai menulis artikel khusus soal aksi para pemain Indonesia saat menahan para pemain Uni Soviet.

Nostalgia Hari Ini: Bikin Uni Soviet Mati Kutu, Timnas Indonesia Hebohkan Dunia

“Bek-bek Uni Soviet yang bertubuh raksasa langsung terbangun saat Ramang, penyerang lubang bertubuh kecil, melewati dua dari mereka dan memaksa (kiper Lev) Yashin melakukan penyelamatan dengan tepisan,” demikian tulis FIFA dalam artikelnya.

“Dan meski tim Gavril Kachalin memegang kendali penguasaan bola setelahnya, mereka dibuat frustrasi oleh kegagalan mereka menjebol gawang tim underdog,” sambung artikel itu.

Tak cuma itu, dikutip dari Good News From Indonesia, keberhasilan skuat Garuda itu menarik perhatian salah satu petinggi sepak bola Inggris, Sir Stanley Rous. Sir Stanley yang kemudian jadi presiden FIFA Keenam itu kagumi perjuangan Indonesia.

“Baru kali ini saya melihat permainan bertahan yang begitu sempurna,” ucap Rous seperti dikutip dari BOLA edisi 27 Juli 1984 via GNFI

Susunan Pemain:

Uni Soviet: Lev Yashin; Nikolay Tischenko, Anatoly Bashashkin; Boris Kuznetsov, Jozef Betza, Igor Netto; Boris Tatushin, Anatoly Isayev, Eduard Streltzov, Sergey Salnikov; Vladimir Ryzhkin

Indonesia: Maulwi Saelan; Mohammad Rasjid, Chairuddin Siregar; Ramlan Jatim, Kwee Kiat Sek, Tan Liong Houw; Aang Witarsa, Phoa Sian Liong, Ashari Danu, Thio Him Tjiang, Andi Ramang.

Olympic Park, Melbourne, Penonton: 8000, wasit: Takenokoshi (Jepang)

- Advertisement -

More From Author

- Advertisement -

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img