Chelsea ke Final Liga Champions dengan Satu Tradisi dan Hantu Deja Vu

BACA JUGA

Banner Gamespol Baru

Football5Star.com, Indonesia – Chelsea memastikan diri lolos ke final Liga Champions 2020-21, Kamis (6/5/2021) dini hari WIB. Kemenangan 2-0 pada leg II semifinal membuat The Blues unggul agregat 3-1 atas Real Madrid. Tim asuhan Thomas Tuchel akan menantang Manchester City pada laga puncak di Istanbul, 29 Mei nanti.

Bagi Chelsea, final nanti adalah yang ketiga sepanjang partisipasi di Liga Champions. Sebelumnya, mereka juga melaju ke partai puncak pada musim 2007-08 dan 2011-12. Pada kesempatan pertama, mereka harus gigit jari. Namun, pada kali kedua, trofi Si Kuping Besar mampu dibawa ke London.

- Advertisement -

Terlepas dari hasil akhir, ada satu benang merah dalam tiga keberhasilan The Blues lolos ke final Liga Champions. Itu menyangkut sosok di kursi manajer. Bak sebuah tradisi, mereka lolos ke partai puncak setelah melakukan pergantian pada pertengahan musim.

Thomas Tuchel membawa Chelsea ke final Liga Champions setelah menggantikan Frank Lampard pada akhir Januari 2021.
independent.co.uk

Pada 2007-08, Chelsea lolos ke final bersama manajer asal Israel, Avram Grant. Dia naik ke kursi manajer setelah Jose Mourinho dipecat pada 20 September 2007. Empat musim kemudian, Roberto Di Matteo mengulangi langkah Grant. Menggantikan Andre Villas-Boas pada 4 Maret 2012, dia membawa The Blues ke partai puncak.

Musim ini, 2020-21, kisah serupa terulang. Thomas Tuchel tidak menangani Chelsea dari awal musim. Dia baru datang pada 26 Januari 2021 sebagai pengganti Frank Lampard. Sebelumnya, dia menganggur hampir sebulan setelah didepak Paris Saint-Germain.

Benang merah lainnya, Chelsea lolos ke final Liga Champions tanpa menyandang status juara Liga Inggris. Pada 2007-08 dan 2011-12, The Blues berpartisipasi sebagai runner-up Premier League. Adapun musim ini, mereka meraih tiket ke ajang ini berkat finis di posisi ke-4.

Chelsea Dibayangi Deja Vu

Pertanyaan yang kini muncul, akankah Thomas Tuchel menyamai jejak Avram Grant atau Roberto Di Matteo? Segenap pendukung Chelsea tentu berharap pelatih asal Jerman itu menyamai Di Matteo yang membawa pulang Si Kuping Besar ke Stamford Bridge.

Akan tetapi, karena harus menghadapi Manchester City pada final, The Blues dihantui sebuah deja vu. Saat menjalani final sesama tim Inggris pada 2007-08, mereka terjungkal. Kala itu pun, mereka berhadapan dengan klub asal Kota Manchester, yakni Manchester United.

Kegagalan pada final yang berlangsung di Moskva itu sangat pedih. Mereka di ambang juara setelah tendangan eksekutor ketiga Man. United, Cristiano Ronaldo, tak menambus jala gawang Petr Cech. Apa lacur, John Terry yang jadi penendang kelima malah gagal. Dia terpeleset sehingga bola hasil sepakannya melambung jauh. Kegagalan juara dipastikan Nicolas Anelka yang gagal menaklukkan Edwin van der Sar.

Itu bukan satu-satunya deja vu yang menghantui Chelsea pada laga final Liga Champions nanti. Mereka juga dibayang-bayangi perjuangan melelahkan selama 120 menit. Bukan apa-apa, itulah yang terjadi pada dua final yang mereka lakoni sebelumnya. Bedanya, pada 2011-12, The Blues juara setelah menang adu penalti atas Bayern Munich.

[better-ads type=’banner’ banner=’156436′ ]

- Advertisement -

More From Author

- Advertisement -

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img