Fabio Cannavaro, Bek Terbaik Dunia yang Memiliki Postur Mungil

BACA JUGA

gamespool
Fabio Cannavaro, Bek Terbaik Dunia yang Memiliki Postur Mungil 5

Football5Star.com, Indonesia – Pada suatu hari di akademi Napoli, seorang pemain bertubuh kecil mendapatkan wejangan dari salah satu petinggi tim akademi, “Fabio, saya lebih suka Anda menjadi seorang bek,” ucapnya. Pernyataan itu ditujukan kepada Fabio Cannavaro muda, sebuah perkataan yang merubah hidup Cannavaro sebagai pemain sepak bola.

Siapa yang tidak kenal Fabio Cannavaro, salah satu bek terbaik dalam sejarah sepak bola. Sampai artikel ini ditulis, Cannavaro masih menjadi bek terakhir yang mendapatkan gelar Ballon d’Or, tepatnya pada 2006. Namun jika Anda melihat postur tubuh Cannavaro, dia sama sekali tidak terlihat ideal untuk bermain di posisi bek tengah.

Awal Karier di Napoli dan Pertemuannya dengan Diego Maradona

- Advertisement -

Cannavaro lahir di Naples pada 1973 dan berhasil masuk ke akademi Napoli pada 1988 saat usianya 15 tahun. Pada saat itu, dia berposisi sebagai gelandang. Namun, salah satu direktur di akademi mendatanginya dan memintanya untuk bermain sebagai bek tengah.

Tentu saja, Cannavaro cukup terkejut karena permintaan itu, dia tak memiliki tinggi badan yang ideal untuk bermain sebagai bek tengah. Tinggi dia hanya 175 cm atau di bawah 6 kaki, yang mana itu terbilang pendek untuk ukuran bek tengah Eropa.

Fabio Cannavaro, Bek Terbaik Dunia yang Memiliki Postur Mungil
Wikipedia
- Advertisement -

Tapi benar saja, Cannavaro ternyata cukup apik bermain sebagai bek tengah. Antisipasi, tekel, distribusinya luar biasa. Dia juga mampu memulai serangan saat dia berhasil merebut bola dari lawan.

Salah satu momen yang merubah hidupnya datang saat dia pertama kali berlatih dengan tim utama Napoli, dimana dia bertemu dengan kapten Napoli, Diego Maradona. Saat masuk ke skuat utama, Cannavaro diminta oleh Ciro Ferrara untuk tidak menekel Maradona.

- Advertisement -

“Tidak, tidak, Anda tidak hanya pergi dan berlatih dengan Maradona. Anda tidak hanya pergi dan menjegal Maradona. Bola tidak pernah lepas dari kakinya,” kata Ferrara kepada Cannavaro muda.

Namun permintaan Ferrara tidak dituruti olehnya. Cannavaro melakukan tekel kepada sang legenda dan seluruh pemain dan pelatih langsung marah kepadanya, namun Maradona hanya tersenyum dan akhirnya memberi sepatunya kepada Cannavaro.

Cannavaro berhasil promosi pada tahun 1992 dan menjadi pemain reguler pada musim 1993-94 dan berduet dengan Ciro Ferrara. Dia mencetak gol perdananya pada Januari 1995 melawan AC Milan.

Namun keadaan finansial Napoli sejak ditinggal Diego Maradona pada 1991 terus memburuk. Dan itu memaksa Il Partenopei harus menjual beberapa pemain hebatnya, salah satunya Cannavaro.

Bersinar di Parma, Tenggelam di Inter

Pemilik Baru Parma Ingin Temukan Fabio Cannavaro Baru
calcioweb

Cannavaro pindah ke Parma pada 1995 dan dia langsung menjadi pemain reguler dan menjadi kapten tim. Bersama I Gialloblu, Cannavaro membawa timnya mencapai prestasi terbaik sepanjang sejarah klub.

Duetnya bersama Lilian Thuram dan adanya Gianluigi Buffon di belakangnya membuat Parma menjadi tim yang disegani di Italia dan Eropa. Bersama mereka, Cannavaro mampu membawa Parma juara UEFA Cup, Piala Super Italia, dan dua Coppa Italia.

Namun lagi-lagi, Cannavaro dijual karena alasan finansial. Bangkrutnya Parmalat membuat Parma harus menjual banyak pemainnya. Salah satunya Cannavaro, yang dijual ke Inter dengan harga 23 juta euro pada 2002.

“Tinggi badan bukan menjadi masalah karena saya selalu menjaga penyerang tinggi dan saya tak melakukannya dengan buruk,” kata Cannavaro di konferensi pers saat berkostum Inter.

Pernyataan itu membuat publik percaya diri bahwa Cannavaro bisa menjadi pemain hebat di Inter. Tapi sayangnya performanya bersama Nerazzurri tak sebagus sebelumnya saat di Parma. Dia bermasalah dengan cedera dan sering dimainkan di luar posisinya oleh pelatih Hector Cuper. Dia akhirnya hanya bermain dua tahun di sana.

Calciopoli dan Piala Dunia

Cannavaro dijual ke Juventus pada 2004 lewat salah satu pertukaran pemain paling membingungkan dalam sejarah sepak bola. Cannavaro dijual dengan harga 10 juta euro plus kiper cadangan Juventus, Fabian Carini, yang akhirnya hanya menjadi kiper ketiga di bawah Julio Cesar dan Francesco Toldo.

Cannavaro kembali bermain dengan Lilian Thuram dan Gianluigi Buffon dan langsung kembali ke performa terbaiknya. Pada momen ini, Cannavaro berada di puncak kariernya dengan memenangkan beberapa penghargaan individu dan klub.

Dan kehebatannya terlihat saat menjadi kapten Italia di Piala Dunia 2006. Ya, Cannavaro memimpin Azzurri menjadi juara untuk pertama kalinya sejak 1982. Penampilan terhebatnya datang pada laga semi final melawan Jerman, yang mana itu mungkin menjadi salah satu penampilan bek tengah paling fantastis dalam sejarah Piala Dunia. Performa hebatnya bersama Juventus dan timnas Italia membuatnya mendapatkan penghargaan Ballon d’Or.

Setelah Piala Dunia, Juventus dinyatakan bersalah atas kasus Calciopoli dan itu membuat mereka turun ke Serie B. Cannavaro menjadi salah satu pemain bintang yang pergi dari Juventus setelah itu.

“Bahkan jika saya tahu ini mungkin sulit dipercaya, saya akan tetap di Juventus seandainya mereka tetap di Serie A, bahkan dengan pengurangan 30 poin,” ucap Fabio Cannavaro.

Real Madrid dan Penurunan Performa

Luka Modric - Fabio Cannavaro - Florentino Perez - Real Madrid - Sportskeeda
Sportskeeda

Cannavaro pindah ke Real Madrid dan dia masih menampilkan performa terbaiknya di sana dalam dua musim pertamanya, dimana dia membawa Los Blancos juara La Liga dua musim beruntun. Namun performanya menurun saat bermain di musim ketiganya.

Dia kembali ke Juventus pada 2009, tapi performa Cannavaro tak lagi sama. Dia juga memiliki hubungan yang buruk dengan para fans Juventus karena dianggap berkhianat saat memutuskan untuk pergi ke Madrid setelah Juventus turun ke Serie B.

Bianconeri akhirnya hanya bisa finis di posisi ke-7 klasemen dan tersingkir secara memalukan oleh Fulham di Liga Europa. Cannavaro akhirnya hanya bermain satu musim di periode keduanya di Juventus dan pindah ke Al-Ahli sebelum memutuskan pensiun pada 2011.

[better-ads type=’banner’ banner=’156432′ ]

- Advertisement -

More From Author

- Advertisement -

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img