Jelang 8 Besar Liga Champions, PSG Diserang Eks Bayern Munich

gamespool

Football5Star.com, Indonesia – Leg I perempat final Liga Champions akan bergulir pada tengah pekan nanti. Salah satu laga adalah Bayern Munich vs Paris Saint-Germain yang merupakan ulangan final musim lalu. Jelang laga itu, PSG mendapat serangan dari eks pemain Bayern, Bixente Lizarazu.

Tentu saja bukan serangan fisik yang dilakukan Lizarazu, melainkan kritik pedas. Hal itu dilakukan setelah PSG kalah 0-1 dari Lille OSC pada akhir pekan lalu. Gara-gara kekalahan itu, Les Parisiens pun tergeser lagi dari puncak klasemen. Laga itu pun diwarnai insiden yang melibatkan Neymar.

Lizarazu mengungkapkan kekaguman terhadap Lille yang demikian solid dan apik menghadapi PSG. Sementara itu, Les Parisiens seperti mati akal pada laga krusial tersebut.

Kekalahan PSG dari Lille dinilai Bixente Lizarazu sebagai bukti ketidaksolidan tim.
thesun.co.uk

“Ini adalah kemenangan sepak bola kolektif atas sepak bola individualis. Inilah yang kita saksikan kemarin dengan sebuah tim yang sangat kuat dan begitu terstruktur. Mereka begutu solid dan Paris hancur lebur melawan tim Lille ini,” ujar Bixente Lizarazu seperti dikutip Football5Star.com dari Telefoot.

Lizarazu tak berhenti di situ. Dia mengungkapkan, “Sudah menelan 8 kekalahan dan 3 kali kalah beruntun di Parc des Princes? Ini sepertinya bukan sebuah tim juara. Terutama kemarin, ini adalah tim dari Paris yang tak terorganisasi, amburadul.”

Lizarazu Sindir Pochettino

Bixente Lizarazu juga tak lupa mengkritik pelatih Paris Saint-Germain, Mauricio Pochettino. Hal itu diungkapkan secara halus dengan membahas peran Leandro Paredes dan Idrissa Gueye saat PSG menghadapi Lille OSC. Dia menilai sang pelatih sepertinya telah memberikan tugas yang salah kepada kedua pemain itu.

“Hal yang sangat aneh adalah Paredes sebagai gelandang bertahan. Padahal, dia adalah salah satu yang memiliki kreativitas untuk menyambung dengan lini serang. Peran ini justru dimainkan Gueye yang sejatinya adalah seorang gelandang bertahan,” urai Lizarazu lagi.

Dalam pandangan Bixente Lizarazu, selalin terlalu bertumpu pada kemampuan individual para pemainnya, Paris Saint-Germain punya satu penyakit sistematis. Menurut dia, ketika pertandingan tak berjalan sesuai rencana, permainan mereka macet, lalu muncul letupan emosi pada akhir laga. Itu jadi kelemahan yang sangat terlihat sepanjang musim ini.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More