[KOLOM] Jersi Tanpa Logo Klub adalah Nostalgia

BACA JUGA

Banner Gamespool Baru Football5Star

Football5Star.com, Indonesia – Muhammed Gumuskaya. Pemain muda Fenerbahce itu tiba-tiba saja mengemuka karena videonya viral di media sosial. Setelah menjebol gawang HJK Helsinki, dia melakukan selebrasi dengan coba mencium logo klubnya. Tak sadar mengenakan jersi tanpa logo klub, jadilah dia kebingungan dan mengundang tawa.

Gumuskaya kian meramaikan diskusi polemik jersi tanpa logo klub yang dibuat pabrikan apparel asal Jerman, Puma. Musim ini, semua klub yang disuplai Puma akan mengenakan jersi ketiga dengan desain tanpa logo. Sebagai gantinya, pada bagian dada tertulis nama klub dalam ukuran besar.

- Advertisement -

Sejak bocoran desain jersi itu muncul, resistensi langsung menyeruak. Para fan dari klub-klub yang disponsori Puma mencak-mencak. Maklum saja, bagi mereka, logo klub adalah sesuatu yang sakral. Ultras Borussia Dortmund, Desperados, bahkan menilai penghilangan logo dari jersi tak ubahnya pengkhianatan.

Muhammed Gumuskaya kelimpungan mencari logo klub saat merayakan gol Fenerbahce lawan HJK Helsinki.
ntvspor.net

Dalam konteks protes, tentu akan menarik bila Gumuskaya sebetulnya sengaja terlihat kebingungan saat selebrasi karena ingin mengingatkan bahwa ada ritual di antara para pemain untuk mencium atau menepuk logo klub setelah mencetak gol. Ketika logo klub tak lagi ada pada tempatnya, ritual itu pun tak bisa dilakukan.

- Advertisement -

Sangat beralasan untuk membayangkan hal itu. Pasalnya, sungguh aneh bila Gumuskaya baru tahu jersi yang dikenakannya tanpa logo klub. Loginya, dia sudah mengetahui hal itu sebelum pertandingan atau malah saat kali pertama dirilis oleh Fenerbahce. Sayangnya, tak ada keterangan yang mendukung hal tersebut.

Jersi Tanpa Logo Klub Bukan Hal Aneh

Di kalangan pemain dan klub, resistensi terhadap desain jersi ketiga dari Puma memang tak terdengar. Fernandinho, kapten Manchester City bahkan berkata, “Akun ingin sesuatu yang beda dan kami benar-benar mendapatkannya. Aku menyukai desainnya karena logo mungkin berubah dari waktu ke waktu, tapi nama klub selamanya akan tetap.”

- Advertisement -

Seperti dikatakan Fernandinho, alasan Puma membuat desain ini memang agar berbeda, tak biasa, bahkan revolusioner. Padahal, jersi tanpa logo klub bukanlah fenomena baru atau aneh. Paling musdah, tengok saja pentas Liga Jerman dekade 1970-an hingga 1980-an. Ada cukup banyak klub yang memakai jersi seperti itu.

Borussia Dortmund dengan jersi tanpa logo klub pada 1978-79.
Getty Images

Ada cukup banyak klub yang memakai jersi seperti itu, baik itu jersi kandang maupun tandang. Khusus untuk para fan Borussia Dortmund, kemunculan jersi tanpa logo klub itu bisa dibilang nostalgia ke masa lampau. Pada 1978 hingga 1982, logo BVB memang tak terpampang di jersi. Jadi, agak berlebihan bila fan Dortmund begitu antipati.

Beda halnya dengan para fan Borussia Moenchengladbach. Mereka lebih pantas melakukan protes besar-besaran. Pasalnya, peniadaan logo klub dari jersi adalah pengkhianatan terhadap tradisi. Sebelum ini, logo “berlian” selalu menghiasi jersi Die Fohlen dari masa ke masa. Hanya jersi kiper yang pernah tanpa logo klub.

Hal berbeda pada logo Gladbach di jersi adalah penempatannya. Ia tak selalu berada di dada sebelah kiri. pernah di tengah, pernah pula di dada sebelah kanan. Lalu, dari 1976 hingga 1992, logo klub berada di ujung kiri bawah sponsor utama. Ketika itu, sponsor Die Fohlen adalah Erdgas, Datsun, dan Tuborg.

Puma Tak Hilangkah Logo Klub

Kembali pada polemik yang terjadi saat ini, Puma sebetulnya tidak menghilangkan logo klub dari jersi klub-klub yang disuplainya. Pada jersi yang diprotes banyak fan, logo dialihkan ke bagian belakang. Tepatnya di bawah kerah. Tentu saja ukurannya kecil, tak sebesar logo klub yang biasa terpampang pada bagian dada.

Logo klub juga sebetulnya terpampang pada bagian depan jersi. Jumlahnya bahkan lebih banyak, tak cuma satu. Namun, keberadaanya agak samar karena hanya jadi semacam motif khusus untuk kain jersi bagian depan. Untuk jersi dengan warna hitam pekat seperti Gladbach, lumayan sulit juga mengidentifikasinya.

Logo Borussia Moenchengladbach masih ada di jersi ketiga musim 2021-22.
borussia.de

Terlepas dari hal itu, suara-suara miring dari fan mengenai jersi tanpa logo klub tetap harus didengar. Bagaimanapun, itu adalah bentuk kegelisahan mereka soal identitas klub yang makin terkoyak, dikorbankan demi cuan. Padahal, identitas itulah yang jadi sumber kebanggaan.

Di sebuah klub, ada tiga hal yang jadi identitas utama, yaitu warna kostum, logo klub, dan pemain loyal. Belakangan ini, identitas ketiga mulai sulit ditemukan. Sosok-sosok seperti Francesco Totti dan Paolo Maldini kian sukar didapati. Nah, ketika Puma memunculkan jersi tanpa logo klub, ada kekhawatiran identitas klub kian tergerus.

Ujung-ujungnya, bila ditarik ke titik ekstrem, mungkin ada kekhawatiran lain yang lebih besar. Bila logo saja sudah berani dihilangkan, jangan-jangan ke depannya perusahaan apparel akan coba-coba memakai warna rival pada salah satu varian jersi yang mereka buat. Bisa saja nanti kostum ketiga Dortmund berwarna biru yang identik dengan FC Schalke 04.

- Advertisement -

More From Author

- Advertisement -

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img