Banyak Pemainnya Lahir di Luar Maroko, Ini Kata Walid Regragui

BACA JUGA

Football5Star.com, Indonesia – Pelatih timnas Maroko, Walid Regragui, menegaskan bahwa dirinya tak masalah timnya memiliki banyak pemain yang lahir di luar Maroko. Menurut Walid, para pemainnya termasuk dirinya tetap orang Maroko terlepas dari tanah kelahirannya.

Sebelum Piala Dunia 2022 dimulai, timnas Maroko dikritik di negaranya sendiri karena memiliki banyak sekali pemain yang lahir di luar Maroko.

- Advertisement -

Tepatnya ada 14 dari 26 pemain yang lahir di luar Maroko, itu termasuk pemain bintang mereka seperti Achraf Hakimi yang lahir di Spanyol, dan sang kiper, Bono yang lahir Kanada. Bahkan Walid sendiri lahir di Prancis.

Banyak Pemainnya Lahir di Luar Maroko, Ini Kata Walid Regragui (Times Now)
Times Now

Namun para pemain berhasil membuktikan dirinya dengan membawa Maroko ke perempat final Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah.

- Advertisement -

“Sebelum Piala Dunia ini kami memiliki banyak masalah tentang orang-orang yang lahir di Eropa dan orang-orang yang tidak lahir di Maroko dan banyak wartawan berkata, ‘Mengapa kita tidak bermain dengan orang-orang yang lahir di Maroko?’,” kata Walid seperti dilansir Football5Star.com dari Planet Football.

“Hari ini (menang lawan Spanyol) kami telah menunjukkan bahwa setiap orang Maroko adalah orang Maroko. Ketika dia datang ke tim nasional dia ingin mati, dia ingin berjuang. Sebagai pelatih, saya lahir di Prancis dan tidak ada yang bisa memiliki hati saya untuk negara saya.

- Advertisement -

“Ini yang saya katakan kepada para pemain. Setiap kali mereka datang ke tim nasional, mereka memberikan 100 persen.

“Yang bagus adalah para pemain lahir di Jerman, Italia, Spanyol, Prancis, Belanda, Belgia, setiap negara memiliki budaya sepak bola dan kami telah menciptakan perpaduan dan saya sangat senang dengan itu.”

Walid Regragui Tak Peduli dengan Rekor

Walid Regragui - Timnas Maroko vs Spanyol - EBC
EBC

Walid memecahkan rekor sebagai pelatih Afrika pertama yang berhasil mengantarkan timnya ke perempat final Piala Dunia. Tapi dia tak peduli dengan rekor itu.

“Saya tidak peduli karena saya berjuang untuk membuatnya bukan tentang kewarganegaraan, membuatnya bukan tentang paspor. Anda memiliki kompetensi, Anda bisa melakukannya, atau tidak. Bagi saya ini bukan tentang menjadi orang Arab atau Afrika,” katanya.

“Saya seorang pelatih yang ambisius dan saya mencoba memberikan ini kepada para pemain saya. Mungkin ketika saya sudah tua, saya akan melihat ke belakang dan bangga.”

- Advertisement -

More From Author

- Advertisement -

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img