[KOLOM] PSSI dan PT LIB Mengajarkan Kita Jangan Berharap pada Mereka

BACA JUGA

Football5star.com, Indonesia – Iring-iringan ambulance mengawali Minggu hening kota Malang. Hari kedua Oktober yang rasa-rasanya tak pernah terbayangkan setelah hari pertama yang tak kita harapkan.

Sabtu malam jelang hari berganti satu foto sederhana menghujam jantung, bukan hanya pecinta sepak bola, tapi kita semua. Seorang bapak menggendong anaknya untuk menyelamatkan diri dari amukan aparat.

- Advertisement -

Dia menggendong erat-erat. Menutup wajah buah hati agar merasa tenang. Agar si kecil tidak usah tahu sesuatu yang tidak ia mengerti sebabnya. Agar si kecil tidak perlu melihat kebrutalan mereka yang tidak bertanggung jawab.

{Kolom} Apa Sudah Saatnya Berhenti Cintai Sepak Bola Indonesia?
Istimewa

Masih di tempat yang sama. Seorang ibu menangis mencari anaknya yang masih balita. Yang sepanjang 90 menit di di sisinya tiba-tiba hilang entah ke mana.

- Advertisement -

Sudah. Sudah tidak sanggup saya melanjutkan malam mencekam di Kanjuruhan. Saya memang tidak di sana.

Tapi dari kemarin malam sampai tulisan ini dibuat hati dan pikiran saya tak pernah berhenti memikirkan tragedi Kanjuruhan. Nonton pertandingan liga-liga Eropa pun sudah tidak ada rasanya. Kelu di mana-mana.

Bunga dan Lilin Suporter Indonesia di GBK

- Advertisement -

Minggu (2/10/2022) malam di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta, penuh dengan suporter. Digalang Ultras Garuda, ratusan mungkin ribuan suporter datang menghadiri aksi solidaritas.

Tabur bunga dan menyalakan lilin untuk mengenang 127 korban meninggal serta 300-an yang masih luka-luka. Bukan cuma Aremania yang datang.

arema-suporter indonesia-tragedi kanjuruhan
football5star.com/wandasyafii

Suporter lain juga ada di GBK. Jakmania, K-Conk Mania, Nord Jak, dan Bonek Mania hadir berbelasungkawa. Lagu “Sampai Jumpa” dari Endak Soekamti yang selama ini kerap dinyanyikan suporter di stadion-stadion syahdu terdengar tadi malam.

Doa-doa turut dipanjatkan. Harapan besar juga ikut dilontarkan demi terungkapnya kebenaran. Atas nama kemanusiaan para suporter satu suara agar tidak ada lagi sepak bola.

Karena sekali lagi, sepak bola tidak sebanding dengan satu nyawa manusia. “Kemarin adalah duka kita sebagai suporter. Darah kita sama, bahasa kita sama, negara kita sama, Indonesia,” kata perwakilan Jakmania di GBK, Minggu (2/10/2022).

“Kejadian kemarin mungkin semua orang akan menunjuk kita sebagai biang kerok sebagai suporter Indonesia. Itu sudah biasa. Tapi yang tidak biasa adalah ketika korban nyawa, bahkan 100 lebih nyawa hilang,” sambungnya.

arema-suporter indonesia-tragedi kanjuruhan
[KOLOM] PSSI dan PT LIB Mengajarkan Kita Jangan Berharap pada Mereka 6

“Maka tidak ada seperti dulu lagi tidak ada penyelesaiannya. Kalau sepak bola harus lebih mahal dari nyawa, bagi saya dan mungkin bagi kawan-kawan lebih baik tidak ada sepak bola. Kita tidak pernah mau lagi melihat ibu, anak, istri, suami, kehilangan ketika mereka pergi ke stadion, pulang hanya tinggal nama,” ia menambahkan.

”Kita suarakan, kita minta tanggung jawab kepada siapa pun yang harus maju atas meninggalnya saudara-saudara kita di Kanjuruhan,” tutup perwakilan Jakmania.

Tidak ada lagi merah, biru, hijau, tadi malam. Semua bersatu demi sepak bola Indonesia. Bonek tidak sungkan untuk datang. Jak Mania tak berpikir dua kali untuk mengajak foto bersama.

Semuanya merangkul satu sama lain. Menyalakan lilin, menabur bunga bersama saat hati dan pikiran sedang hancur-hancurnya.

Matinya Hati Nurani Pemangku Kepentingan

Dari dulu sepak bola Indonesia tidak pernah baik-baik saja. Masalah terjadi di semua lini, di semua era kepemimpinan federasi.

Tidak ada para pemangku kepentingan yang lebih baik. Yang ada hanya mereka-mereka yang lebih buruk di setiap era.

Ketum PSSI jangan memberikan kendali sepak bola Indonesia kepada warganet.
pssi.org

Tragedi Kanjuruhan harusnya menjadi cambuk menyakitkan untuk PSSI, PT LIB, aparat, manajemen klub, hingga TV pemegang hak siar. Mereka-mereka yang tidak punya malu harusnya dipermalukan oleh suporter Indonesia.

Belum kering air mata para suporter, para petinggi sudah bersilat lidah. Mochamad Iriawan, ketua umum PSSI, misalnya.

Dia mengawali konferensi pers dengan “Para hadirin yang berbahagia”. Tampak jelas tak ada raut bersalah darinya. Lalu dengan bangga menunjuk diri sendiri sebagai ketua tim investgasi atas tragedi Kanjuruhan.

Gilang Widya Pramana, CEO Arema FC, masih sempat menghitung kerugian klub dengan larangan bermain kandang di sisa musim ini.

Tak kalah memalukan adalah ucapan Kapolri, Listyo Sigit Prabowo, yang menawarkan keluarga korban masuk polisi. Ya, mereka yang dibunuh polisi ditawari masuk polisi.

Sementara itu Polres Malang mengungkapkan penembakan gas air mata sudah sesuai prosedur. Padahal, dalam statuta FIFA jelas disebutkan gas air mata dilarang keras digunakan di stadion.

Lalu PT LIB? Kesalahan sudah dilakukan jauh sebelum hari pertandingan. Mereka menolak permintaan Panitia Pelaksana (Panpel) dan polres Malang untuk memajukan jadwal menjadi sore hari.

Dalam surat PT LIB nomor 497/LIB-KOM/IX/2022 mereka menenegaskan laga di Kanjuruhan berjalan sesuai jadwal yang ditentukan.

Ada tiga rujukan yang menjadi alasan PT LIB menolak perubahan jam tayang. Salah satunya berdasarkan hasil koordinasi antara mereka dengan PSSI dan pemandu pertandingan TV.

Semoga FIFA Hukum Indonesia

Tidak ada satu pun dari mereka yang mengaku salah. Dengan begini saja kita sudah tahu akhir dari pengusutan tragedi Kanjuruhan.

Dengan apa yang sudah diucapkan, secara tidak langsung para pemangku kepentingan ini telah memberitahu kita semua agar jangan berharap kepada mereka.

Apalagi bukan kali ini saja Liga 1 musim 2022-2023 memakan korban jiwa. Sudah ada korban sebelumnya dengan kasus berbeda-beda. Tapi tidak ada tindakan nyata yang dilakukan PSSI maupun PT LIB.

tragedi kanjuruhan-arema-suporter indonesia
football5star.com/wandasyafii

Induk sepak bola dunia, FIFA, punya alasan sangat kuat untuk menghukum Indonesia. Penembakan gas air mata sudah jelas melanggar peraturan FIFA.

Suporter, seperti yang diucapkan di atas tadi akan dengan senang hati menerimanya. Hukuman paling ringan yang bisa diambil FIFA adalah mencabut status Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun depan.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan satu ungkapan yang sedari kemarin selalu memutar di kepala.

“Dukanya hilang, namanya kembali terlupakan, hastagnya tenggelam, pertandingan kembali ramai, suporter kembali bersorak. Tapi keluarganya? seumur hidup akan membenci sepak bola”.

Justice for Kanjuruhan!!!

- Advertisement -

More From Author

- Advertisement -

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img