Leonidas, Sejarah Baru Flamengo dan Pencetus Tendangan Salto

Football5star.com, Indonesia – Tendangan salto merupakan salah satu keindahan sepak bola. Jika menyebut satu nama yang paling berjasa atas munculnya tendangan salto, nama Leonidas Da Silva pasti yang teratas.

Siapa yang pertama kali melakukan tendangan salto masih menjadi perdebatan hingga sekarang. Tapi banyak yang percaya jika orang yang pertama kali memperkenalkannya ke dunia adalah Leonidas Da Silva.

Siapa pun yang pertama kali melakukannya, kita semua sepakat bahwa tendangan salto aksi yang indah. Sebuah gerakan mempesona yang menunjukkan estetika dalam sepak bola dan selalu kita sambut dengan suka cita.

@ClassicFootball

Soal Leonidas yang dipercaya sebagai pencetus tendangan salto, semua berawal pada April 1932. Ya, dua tahun setelah Piala Dunia edisi pertama dia membuat publik sepaka bola tercengang.

Sang winger yang memperkuat Bonsucesso melepaskan bycycle kick ke gawang Carioca. These Football Times menyebut jika aksi serupa sudah biasa dilakukan di Uruguay dan Chile. Tapi di Brasil dan dalam sebuah kompetisi resmi ini baru pertama kali terjadi.

Dan karena ini pula Leonidas disebut-sebut sebagai penemu tendangan salto. Predikat ini semakin melekat padanya ketika dia menunjukkan itu di ajang paling prestisius sejagad, Piala Dunia.

The Versed

Tepatnya di Piala Dunia 1938 Prancis, ia kembali membuktikan bahwa aksi menawan itu bukan sebuah kebetulan. Legenda yang pernah memperkuat Penarol mencetak satu gol saat Brasil menang 2-1 atas Cekoslowakia.

Tendangan salto Leo tidak hanya membuat penonton tercengang. Teknik yang baru kali pertama terjadi di Piala Dunia bahkan membuat wasit ragu apakah gol itu sah atau aksi akrobatik semacam itu melanggar peraturan.

Usai pertandingan, Paris Match memuji sang legenda setinggi langit. “Apakah dia bermain di darat atau di udara. Pemain ini seperti karet tapi punya bakat luar biasa karena menendang bola di luar kendali orang. Dan tendangannya sangat menggelegar,” tulis mereka.

Pemain Menakutkan tanpa Trofi Piala Dunia

Soal kehebatan, tidak ada yang menandingi Leonidas. Soal pengaruh untuk tim, tidak ada pula yang meragukannya. Tapi Leonidas tetaplah manusia biasa.

Dia punya kekurangan yang membuat namanya tak semegah Pele, Romario, atau pun Ronaldo yang mampu memenangkan Piala Dunia. Ya, Leo tak pernah juara dunia.

Dia hanya tampil di dua edisi Piala Dunia. Yakni 1934 di Italia dan Piala Dunia 1938 yang berlangsung di Prancis. Pada edisi pertama Tim Samba bernasib sial. Begitu pula dengan nasib Leonidas yang cuma sekali dimainkan.

Sang legenda yang kala itu baru berumur 20 tahun tampil melawan Spanyol. Kalah 1-3, dia mencetak satu-satunya gol Brasil. Tapi satu golnya membuat Tim Samba tersingkir.

Kepulangan mereka terlalu awal cukup lumrah kala itu. Brasil belum termasuk tim unggulan dan mereka tidak mempersiapkan timnya dengan baik.

john woodbridge

Baru di Prancis pemegang lima medali Piala Dunia diperhitungkan. Dengan Leonidas yang kian matang mereka mampu berbicara lebih banyak. Di Prancis pula namanya mulai ditakuti lawan.

Salah satu performa paling memukau ia perlihatkan kalah Seleccao mengalahkan Polandia 6-5. Pada laga yang berlangsung di Strasbroug, Leo memborong empat gol.

Kepiawaiannya berlanjut di perempat final kala menghadapi Cekoslowakia. Sayang, kebrutalan lawan membuatnya cedera. Kemenangan 2-1 Brasil pun harus dibayar mahal lantaran pemain pentingnya absen di semifinal.

Tanpa Leo, Seleccao kalah dari juara bertahan, Italia. Tapi kemudian dia mengamuk saat bertemu Swedia dalam perebutan tempat ketiga.

Ia mencetak dua gol, yang sekaligus mengukuhkannya sebagai top skorer Piala Dunia 1938. Sejak saat itu pula Brasil membuktikan diri sebagai salah satu negara terkuat di dunia hingga sekarang.

Melawan Rasialisme, Jadi Pemain Kulit Hitam Pertama Flamengo

Sebagaimana negara lain, Brasil juga tak luput dari masalah rasialisme. Bahkan masalah ini sudah terjadi sejak puluhan tahun silam.

Sejak dulu sepak bola Brasil penuh dengan diskriminasi. Padahal selama ini banyak legenda besar yang dilahirkan Brasil berkulit hitam.

Di balik kehebatan itu perjuangan mereka dalam membuktikan diri ternyata tidaklah mudah. Salah satunya Leonidas, sang berlian hitam, yang kemudian dikenal sebagai simbol perjuangan.

Dia memulai karier pada 1930 hingga 1950. Dalam perjalanannya, negara Amerika Latin itu memiliki masalah diskriminasi. Sejatinya, sikap rasial tidak sepenuhnya berasal dari penduduk setempat mengingat negara tersebut multi-ras.

Sikap kolonial Inggris yang masih berkuasa lah yang menjadi biang kerok. Selama mereka berkuasa di sana, penduduk kulit hitam di pandang sebelah mata.

Kondisi tak adil ini pula yang membuat sang legenda terus berjuang dan bekerja keras agar diakui dan dipandang sebagaimana mestinya.

“Menjadi hitam, dia percaya dia selalu harus berbuat lebih banyak agar kehadirannya diakui, agar apa yang dilakukan menjadi berharga. Dulu saat dia bermain sebagian besar pemain lainnya masih berasal dari keluarga terpandang dan berkulit putih,” kata sang istri seperti dilansir The Versed.

Leo yang muncul pertama kali bersama Bonsucesso langsung menjadi incaran klub-klub besar. Bahkan pesonanya sampai ke Uruguay saat dipinang Penarol pada 1933.

Kepindahan ke Uruguay sekaligus jadi cambukan untuk sepak bola Brasil. Mereka yang sedang membangun kompetisi profesional kehilangan salah satu bintang terbaiknya.

Adapun Uruguay saat itu sudah memiliki kompetisi profesional. Tidak Cuma itu, di sana para pesepak bola juga dibayar dengan layak. Pemandangan ini jelas berbeda dengan Brasil yang belum menerapkan sistem upah untuk para pemain.

Petualangan Leo bersama Penarol tidak lama. Dia hanya semusim di sana sebelum kembali ke negarnaya untuk memperkuat Vasco da Gama dan Botafogo.

Pinterest

Memasuki tahun 1936, Leo mengukir sejarah baru saat menerima pinangan Flamengo. Kepindahan itu tercatat memiliki efek jangka panjang untuk sepak bola Brasil. Bersama dua koleganya, Domingos dan Fausto, mereka jadi pemain kulit hitam pertama Flamengo.

Masuknya tiga pemain tersebut membuat pamor Flamengo meningkat pesat. Tidak hanya dari segi sepak bola, kehadiran mereka juga turut menambah populasi kelas pekerja di sana.

Bagi masyarakat Brasil, Leonidas bukan sekadar legenda sepak bola. Dia lebih dari itu. Dia adalah pendobrak batasan-batasan ras. Dia juga turut mewujudkan sepak bola Brasil ke tingkat profesional.

Kecintaan Leonidas Da Silva pada sepak bola berbalas oleh rasa cinta publik yang sangat besar padanya. Bahkan produsen coklat di Brasil, Lacta, membuat sebuah bar bernama Diamante Negro, yang merupakan julukan sang legenda. Mereka juga sempat memproduksi coklat Diamante Negro untuk mengenang jasanya.

Seperti yang disinggung di atas, pemilik 250 gol memang tidak seperti Pele, Romario, Ronaldo, atau legenda lainnya yang mampu meraih Piala Dunia. Yang perlu diingat adalah dia telah meninggalkan warisan berharga untuk sepak bola Brasil.

Dia melawan rasialisme, membantu mewujudkan profesionalisme sepak bola, dan jadi pionir terciptanya gol tendangan salto. Dan satu lagi, pemain yang pensiun 1950 silam telah menaikkan level Brasil yang tadinya bukan tim terpandang menjadi salah satu yang terhebat di dunia.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More