[KOLOM] Misi Mustahil Massimiliano Allegri bersama Juventus

BACA JUGA

Banner Baru Gamespool

Football5Star.com, Indonesia – Tiada putus dilanda keresahan. Begitulah Massimiliano Allegri sejak pulang ke Juventus pada awal musim ini. Menangani kembali I Bianconeri adalah impiannya. Sampai-sampai, dia menutup mata rapat-rapat pada tawaran-tawaran lain. Tentu saja, memori indah lima Scudetti jadi alasannya.

Akan tetapi, kegembiraan itu berubah drastis begitu kompetisi bergulir. Sebabnya, Juventus ternyata bak TransJakarta bermesin metromini. Dari luar terlihat bagus, padahal dalamnya rusak tak karuan. Mesinnya gampang rontok dan tak punya tenaga. Allegri pun sontak disergap keresahan luar biasa.

Juventus akhirnya meraih kemenangan pertama di Serie A saat menghadapi Spezia.
tuttosport.com
- Advertisement -

Tak ada yang menduga, Juventus bersama Allegri justru menjalani salah satu start terburuk sepanjang sejarah. Mereka gagal menang pada empat laga awal di Serie A dan hanya mengemas 2 poin. Kali terakhir itu terjadi pada 1961 alias setengah abad silam.

I Bianconeri memang akhirnya mampu menang pada giornata ke-5. Itu pun tidak meyakinkan. Melawat ke markas Spezia, Giorgio Chiellini cs. hanya menang 3-2 dengan sempat tertinggal 1-2 hingga Federico Chiesa mencetak gol penyeimbang 2-2 ketika laga berjalan 66 menit.

Pertahanan Juventus Keropos

Tak heran bila Allegri tetap resah. “Hari ini, kami beruntung dapat memetik kemenangan. Ini kemenangan bagus dan penting. Namun, kami harus memperbaiki diri dalam hal mencetak peluang dan menendang ke gawang lawan,” urai dia seperti dikutip Football5Star.com dari Tuttosport.

Lebih lanjut, pelatih yang sudah mengoleksi 6 Scudetti itu berkata, “Sejak laga awal, kali inilah kami lebih sering terancam kebobolan. Melawan Milan dan Napoli, kami tak membiarkan lawan mendapatkan peluang emas. Namun, malam ini, kami nyaris tertinggal 1-3.”

Secara khusus, Massimiliano Allegri menyoroti satu hal. Itu adalah kerentanan Juventus membuat kesalahan yang berakibat fatal. Itu sungguh sangat tak sesuai dengan karakteristik I Bianconeri selama ini, terutama selama 5 musim dia bertugas di sana pada periode pertamanya.

Juventus asuhan Massimiliano Allegri selalu kebobolan dalam 5 laga awal Serie A musim ini.
Getty Images

Bagi Allegri, itu tak masuk akal karena materi skuat Juventus masihlah bagus. “Secara teknis, kami harus mengurangi kesalahan. Menilik tingkat kebugaran dan kualitas yang ada, saya menuntut lebih dari para pemain,” ujar pelatih berumur 54 tahun itu.

Kata-kata tersebut seolah mempertegas keraguan Allegri terhadap anak-anak asuhnya. Sebelum laga itu, dia sempat mengumpat kala Juventus hanya imbang 1-1 dengan AC Milan. Dia mempertanyakan kepantasan para pemainnya mengenakan jersi I Bianconeri yang menuntut kerja lebih keras dan mentalitas pemenang.

Massimiliano Allegri Tinggal Berharap Deja Vu

Menilik performa dalam 5 giornata, Juventus menghadapi masa depan suram di Serie A musim ini. Hanya meraup 5 poin, I Bianconeri harus berharap deja vu jika ingin merebut kembali Scudetto yang musim lalu digondol Inter Milan setelah 9 musim beruntun jadi milik Juventus.

Berbekal 5 poin, Juventus dan Allegri masih bisa juara Serie A. Mereka sudah membuktikan hal itu pada musim 2015-16. Kala itu, hingga giornata ke-10 pun, mereka terpaku di posisi ke-12 classifica dengan hanya meraup 12 poin dan tertinggal 9 angka dari AS Roma, sang capolista.

Massimiliano Allegri membawa Juventus juara Serie A musim 2015-16 meskipun hanya meraih 5 poin dari 5 laga awal.
abc.net.au

Toh, pada akhirnya, I Bianconeri mampu merebut Scudetto. Dari giornata ke-11 hingga 38, Gianluigi Buffon cs. hanya sekali kalah, yakni dari Hellas Verona pada giornata ke-37. Dari pekan ke-11 hingga 25, tim asuhan Allegri selalu menang. Pada akhir musim, mereka meraup 91 poin, unggul 9 angka dari sang runner-up, Napoli.

Keajaiban memang bisa terjadi kapan saja. Namun, Allegri sadar betul bahwa mengulang keajaiban musim 2015-16 sangatlah sulit dan akan jadi misi mustahil. Tak heran bila dia menetapkan target masuk papan atas pada akhir Oktober. Dia tak ingin seperti musim 2015-16 yang berada di posisi ke-10 pada akhir bulan itu.

Belum Ada Formula Andalan

Butuh kerja sangat keras dan segudang keberuntungan bila Juventus ingin mengulangi langkah fenomenal 5 musim lalu tersebut. Secara khusus, I Bianconeri harus memperkuat lini belakang. Faktanya, setelah kebobolan 5 gol pada 5 laga awal, mereka hanya kebobolan 15 kali pada 33 laga berikutnya.

Itu tantangan tersendiri bagi Massimiliano Allegri yang hingga sekarang belum menemukan formula baku. Dari laga ke laga, dia selalu menurunkan susunan starting XI berbeda. Dia tak penah menurunkan formasi yang sama secara beruntun. Di semua lini, bongkar pasang masih terus dilakukan.

Massimiliano Allegri menghadapi misi mustahil bersama Juventus pada musim ini.
Getty Images

Allegri menghadapi masalah pelik untuk membenahi lini belakang. Tak seperti musim 2015-16, dia tak lagi punya trio Chiellini-Barzagli-Bonucci. Lalu, di bawah mistar, tak ada lagi Buffon. Dia harus mengandalkan Szczesny yang selalu kebobolan lebih dari 30 gol sejak dipercaya jadi kiper utama pada 2019-20.

Masalah kian pelik karena tekanan saat ini sangat berbeda. Kembali ke Stadion Allianz dengan reputasi mentereng, Massimiliano Allegri diharapkan mampu membangkitkan Juventus yang musim lalu hanya merebut trofi Coppa Italia dan Supercoppa Italiana di bawah asuhan Andrea Pirlo.

Juventus Dihantui Krisis Finansial

Musim ini, Allegri harus membawa Juventus kembali digdaya, syukur-syukur juara Serie A dan Liga Champions. Khusus di Liga Champions, sangat penting bagi I Bianconeri melaju sejauh mungkin demi mendulang uang. Mereka tak boleh lagi terjegal pada 16 besar seperti musim lalu.

Pemasukan dari Liga Champions akan sangat berharga bagi Juventus. Pasalnya, mereka kini tengah menghadapi ancaman krisis finansial. Musim lalu, akibat pandemi dan ketiadaan penonton, mereka mengalami kerugian hingga 210 juta euro. Pendapatan mereka menurun dari 573,4 juta euro menjadi hanya 480,7 juta euro.

Para petinggi Juventus harus memikirkan cara memnperbaiki kondisi finansial yang jeblok pada 2020-21.
Getty Images

I Bianconeri mulai mendekati peribahasa besar pasak daripada tiang. Di tengah penurunan pendapatan, pengeluaran justru membengkak dari 414,1 juta euro menjadi 449,3 juta euro. Secara khusus, pengeluaran untuk gaji meningkat dari 259 juta euro menjadi 298 juta euro. Ketidakseimbangan neraca terlihat jelas.

Beban gaji untuk pemain dan karyawan jadi sorotan tersendiri karena mencapai 80% dari total pendapatan. Menurut Tuttosport, Juventus harus meraup setidaknya 550 juta euro bila menginginkan kesinambungan. Bila pendapatan hanya mencapai 450 juta euro seperti sebelum pandemi, pengeluaran harus ditekan 10-15%.

Kondisi finansial itu jadi beban tambahan bagi Massimiliano Allegri. Namun, di sisi lain, kondisi ini bisa jadi senjata untuk memotivasi para pemain, terutama yang dalam negosiasi kontrak baru. Bagaimanapun, hanya kontribusi bagus yang bisa jadi modal untuk menerima perpanjangan kontrak dan kenaikan gaji.

- Advertisement -

More From Author

- Advertisement -

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img