Mohamed Kallon, Ditemukan Sandro Mazzola, Terombang-ambing Setelahnya

BACA JUGA

Football5star.com, Indonesia – Timnas Belanda dijuluki raja tanpa mahkota. Banyak pemain hebat yang memenangkan piala tapi tak pernah menyabet gelar pemain terbaik dunia.

Tidak ada ukuran pasti memang menyebut sebuah tim sebagai yang terbaik. Begitu pula dengan pemain yang telah meraih segalanya.

- Advertisement -

Banyak yang percaya sebuah trofi adalah tolok ukur kehebatan pemain. Namun, tak sedikit pula yang menganggap peran dan permainan di lapangan lebih penting dari apa pun.

Tidak ada yang salah dengan anggapan-anggapan di atas. Karena memang, di sepak bola, semua faktor menentukan.

mohamed kallon
pinterest

Talenta hebat adalah anugerah yang tidak dimiliki semua pemain. Tapi hanya mengandalkan talenta tanpa bekerja keras, terus belajar, dan bagaimana bersikap di dalam dan luar lapangan juga akan menentukan ke mana muara seorang pemain.

Mohamed Kallon punya talenta luar biasa. Bedanya, dia tidak pernah menjuarai Piala Dunia, begitupula dengan Ballon d’Or. Memiliki peran penting di lapangan saja hanya sesekali dia lakukan.

Nama Mohamed Kallon pernah besar. Sayang, hanya sebentar. Ia terlalu cepat meredup karena berbagai hal.

Kendati demikian, tidak ada yang menampik kehebatan sang legenda. Apalagi ia sudah menginjakkan kaki di dunia profesional pada usia remaja.

Debut dan Dinobatkan Pemain Termuda Sepanjang Sejarah

Mohamed Kallon sudah menggemparkan Afrika saat masih berusia 15 tahun. Bagaimana tidak, saat pemain lain seusianya masih berkutat di akademi atau yang paling membanggakan menembus tim U-21, dia sudah bertanding di tingkat profesional.

Tinta emas ditorehkan kala berkostum Old Edwardians, klub lokal Sierra Leone 1995 silam. Sampai sekarang ia menjadi pemain termuda yang lakoni debut di Liga Sierra Leone.

Tampil apik di tingkat klub, sang bomber langsung diberi kepercayaan mengenakan jersey timnas senior Sierra Leone. Tak tanggung-tanggung, ia langsung dibawa serta ke Piala Afrika 1996.

mohamed kallon
bbc

Uniknya, di ajang paling mahsyur benua hitam dia juga mencatatkan sejarah. Kallon adalah pemain termuda yang tampil di Piala Afrika 1996. Sebagai informasi, usianya saat itu baru 16 tahun.

Bermain sejak usia 16 tahun, Kallon mematahkan rekor pemain Nigeria, Daniel Amokachi, yang sebelumnya berstatus pemain termuda di Piala Afrika.

Di turnamen akbar perdana, bintang Old Edwardians bukan cuma sekadar sensasi. Ia adalah opsi menjanjikan di lini depan.

Salah satunya saat Sierra Leone berjumpa Burkina Faso di fase grup. Masuk sebagai pemain pengganti, ia lah penentu tiga angka.

Negara Afrika Barat itu sempat memimpin oleh gol Gbessay Sesay. Namun, Aboubacary Ouedrago membawa Burkina Faso menyamakan kedudukan pada menit ke-70.

Leone Stars yang butuh kemenangan untuk melaju ke fase knockout memasukkan Mohamed Kallon. Dan benar saja, sang wonderkid menciptakan sejarah lewat golnya pada menit ke-89.

Gol pertama Kallon untuk negara sekaligus memastikan kemenangan pertama Sierra Leone di Piala Afrika 1996. Tambahan tiga angka juga melambungkan posisi mereka ke puncak klasemen Grup B.

Mohamed Kallon Ditemukan Sandro Mazzola

Tampil menawan bersama Old Edwardians FC dan tim nasional, Kallon jadi buruan seantero dunia. Bukan hanya dari Afrika, klub-klub asal Asia dan Eropa juga berlomba mendapat tanda tangannya.

Inter Milan dengan nama besar berhasil membawanya ke Italia. Ada satu cerita menarik terkait keberanian Inter menggaetnya.

Semua berawal dari turnamen sepak bola di Swedia. Ia yang menjalani trial bersama klub Swedia, Spanga, mengejutkan legenda hidup I Nerazzurri, Sandro Mazzola.

Mazzola yang ketika itu menjabat sebagai Manajer Umum Inter sedang berada di Swedia untuk menyaksikan turnamen untuk U-16.

mohamed kallonSandro Mazzola Gembira Inter Milan Rekrut Joaquin Correa
Sky Sports

Ia pun langsung kepincut dengan Kallon yang tampil memikat di Spanga. Singkat cerita, sang legenda meminta manajemen Inter mendatangkan sang bomber secepat mungkin.

Sandro Mazzola khawatir sang wonderkid akan diikat kontrak oleh Spanga. Beruntung, gerak cepat manajemen ditambah bujukan Mazzola membuat Kallon bersedia menyeberang ke Italia.

Sayangnya, orang yang menemukannya sekaligus merekomendasikannya ke Inter, Sandro Mazzola, meninggalkan Inter Milan. Tanpa sang legenda, Kallon pun diabaikan.

Selama bertahun-tahun ia dipinjamkan ke klub lain. Mulai dari Lugano, Genoa, Bologna, Cagliari, Reggina, hingga Vicenza.

Debut Manis Berakhir Tragis

Kesempatan kedua untuk Mohamed Kallon datang 2001 silam. La Beneamata menggaetnya lagi karena kebutuhan striker yang mendesak.

Pelatih saat itu, Hector Cuper, tak punya banyak pilihan di lini depan. Dia tidak bisa menduetkan Christian Vieri dengan Ronaldo karena cedera berkepanjangan bomber Brasil

Hector Cuper sendiri yang meminta langsung pada manajemen untuk memulangkan Kallon. Pada laga  pembuka Serie A 2001-2002 nakhoda Argentina langsung menduetkan wonderkid Sierra Leone dengan Vieri.

mohamed kallon
larepubblica

Hasilnya di luar dugaan. Ia langsung memborong dua gol di debut bersama Inter Milan. Perasaannya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Jalani debut setelah enam tahun sebelumnya datang untuk pertama kali, dan langsung mencetak brace, pemain berjuluk Wonder Boy langsung memeluk Hector Cuper seusai laga sebagai wujud syukur dan terima kasihnya pada pelatih.

Dalam sekejap ia menjadi idola baru Interisti. Musim 2001-2002 ia benar-benar jadi alternatif utama Hector Cuper di lini depan. Terlebih Ronaldo dan Vieri silih berganti dililit cedera.

Untuk pemain baru yang tak punya nama mentereng, torehan sembilan gol dari 29 penampilan cukup membanggakan. Apalagi ia menjadi top skorer kedua I Nerazzurri musim tersebut.

mohamed kallon

Sialnya, hanya semusim namanya berkibar. Musim berikutnya cedera lutut menghantam dan memaksanya menepi tiga bulan.

Ketika pulih, Wonder Boy sudah punya pesaing lain dalam diri Gabriel Batistuta. Puncak kesialan Kallon terjadi pada musim ketiga.

Bukan karena kedatangan Adriano maupun Obafemi Martins yang membuat Kallon tersingkir. Atau cedera musim sebelumnya yang kambuh. Melainkan penyalahgunaan obat nandrolone.

Ia dinyatakan bersalah oleh badan anti-doping Italia karena mengonsumsi nandrolone dan dihukum tak boleh bermain selama delapan bulan. Ini pula yang kemudian membawanya terbang ke Prancis untuk berseragam AS Monaco.

Mencatatkan 65 pertandingan dan menorehkan 20 gol untuk La Beneamata, Kallon mencoba bangkit di AS Monaco.

mohamed kallon

Upayanya sempat berbuah manis. Sayang, ketegangan yang terjadi antara dirinya dengan Didier Deschamps, pelatih Monaco saat itu mengubah segalanya.

Masalah yang tak kunjung usai dengan Deschamps membawanya menyeberang benua. Tujuannya adalah Arab Saudi dengan Al-Ittihad sebagai tujuan.

Dan sejak saat itu, Kallon mulai gonta-ganti klub. Tak pernah lagi dia bertahan lebih dari semusim di satu klub. Baik ketika berseragam Al Ittihad, Al Hilal, AEK Athena, Al-Shabab, SX Chanba, hingga Viva Kerala.

Merasa sudah tidak mampu bersaing di benua orang, Mohamed Kallon pulang lagi ke Sierra Leone 2013 silam. Uniknya, ia bermain untuk klub yang dia dirikan satu dekade sebelumnya, FC Kallon.

mohamed kallon
sierraloaded

Di FC Kallon pula pemilik 33 caps bersama Sierra Leone mengakhiri 20 tahun karier penuh liku di belantika sepak bola.

Terlepas dari apa yang dialami selama dua dekade, Mohamed Kallon telah berusaha sekeras-kerasnya, sehormat-hormatnya. Karena baginya sepak bola bukan sekadar kalah dan menang.

Kallon meyakini sepak bola sebagai pengubah nasib, menentukan jalan hidup. Anak miskin yang meninggalkan rumah sejak berusia sembilan tahun dan tidur di pasar beralas kardus itu berhasil keluar dari jurang kemiskinan berkat si kulit bundar.

Setelah hidupnya berubah lewat sepak bola, ia tidak lupa untuk menghidupi bakat-bakat muda Sierra Leone melalui FC Kallon ciptaannya.

- Advertisement -

More From Author

- Advertisement -

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img