Nostalgia Hari Ini: Nestapa di Stadion Kanjuruhan

BACA JUGA

Banner Baru Gamespool

Football5star.com, Indonesia – Tepat hari ini, 13 Juli 2005 silam terjadi peristiwa tak mengenakkan di sejarah sepak bola nasional. Tepatnya di Stadion Kanjuruhan, markas klub Arema. Stadion ini menjadi saksi bisu saat terjadi kecelakaan yang menelan korban jiwa dan korban luka di laga Arema kontra Persija.

- Advertisement -

Saat itu menurut laporan dari Jawa Pos terdapat 50ribu penonton yang memadati Stadion Kanjuruhan untuk menyaksikan laga Arema kontra Persija. Laporan dari AFC menyebutkan malah menyebutkan 80ribu penonton yang hadir dan didominasi oleh kelompok pendukung Arema, Aremania.

Nostalgia Hari Ini: Nestapa di Stadion Kanjuruhan

Fanatisme para Aremania tak terbendung untuk bisa menonton langsung perjuangan Franco Hitta dkk. Laga ini menjadi penting untuk Arema yang tengah mengusung misi untuk memimpin klasemen wilayah Barat LIGINA XI 2005.

Dikutip dari laporan Detik, seorang Aremania bernama Fajar Widya Nugraha yang saat itu masih berusia 16 tahun menjadi korban tewas akibat terinjak-injak. Hal ini lantaran ribuan penonton yang tak memiliki tiket memaksa masuk ke dalam stadion.

“Mereka mencoba merengsek dengan menjebol pintu utama. Berhasil merobohkan pintu, ribuan orang dari luar menerobos masuk dan mendorong penonton yang sudah berada di dalam stadion,” tulis laporan Detik.

Akibat insiden ini, stadion yang hanya berkapasitas 50ribu orang ini pun menjadi luber. Sejumlah penonton terpaksa harus menonton pertandingan dari luar lapangan. Namun insiden tak berhenti di situ.

“Karena penonton dari luar terus mendorong penonton yang berada di dalam, akhirnya pagar pembatas ambruk. Bersamaan dengan itu, puluhan orang terinjak-injak. Korban Fajar nyawanya tidak tertolong meskipun sempat dilarikan ke rumah sakit,”

Sementara itu menurut laporan ofisial pertandingan, selain korban Fajar yang merenggang nyawa, terdapat 8 penonton yang juga mengalami luka-luka. Kepergian Fajar menyisakan luka bagi Aremania dan sepak bola nasional.

Fajar saat itu masih berstatus pelajar di SMA Negeri 10 Malang. Menurut laporan, Fajar kehilangan nyawa setelah menderita kepala remuk dan bagian tulang tangan kanan retak. Upaya tim medis dengan memberikan bantuan oksigen buatan tak menolongnya. Nafasnya telah berhenti dan ia menjadi suporter pertama yang gugur di Stadion Kanjuruhan.

Tanggapan dari AFC

Nestapa yang terjadi di Stadion Kanjuruhan tidak hanya menjadi perhatian insan sepak bola nasional. Pihak asosiasi sepak bola Asia, AFC juga menyayangkan peristiwa nahas ini sampai terjadi. Sekjen AFC saat itu, Peter Dato Velappan meminta pihak PSSI untuk segera melakukan investigasi terkait peristiwa nahas ini.

Peter sendiri saat kejadian tersebut tengah berada di Indonesia untuk program Vision Asia di Bandung dan Jogjakarta. Ia memantau perkembangan peristiwa tersebut dari berbagai media lokal.

Permintaan Peter mengenai pengusutan kasus ini juga tidak sekadar pemeriksaan biasa. Pria ini ingin insiden tersebut harus tuntas, agar hasilnya dapat menjadi perbandingan untuk klub lain di Indonesia.

Pihak PSSI pun saat itu menunjuk Ketua Komisi Keamanan Azhar Suryabrata untuk memimpin langsung investigasi ini. Dari hasil investigasi, PSSI kemudian memutuskan Panpel Arema bersalah dan memberikan sanksi berupa larangan bermain satu kali di kandang melawan Persekabpas, serta denda sebesar 30 juta rupiah.

[better-ads type=’banner’ banner=’156417′ ]

- Advertisement -

More From Author

- Advertisement -

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img