Nostalgia Hari Ini: Rabu Kelabu di Markas Arseto Solo, Stadion Sriwedari

BACA JUGA

Banner Baru Gamespool

Football5Star.com, Indonesia – Rabu, 6 Mei 1998 Stadion Sriwedari, markas Arseto Solo, jadi saksi terjadinya salah satu tragedi buruk di sepak bola Indonesia. Api berkobar di stadion tersebut saat Arseto menghadapi Pelita Jaya.

- Advertisement -

Pertandingan tersebut memang sudah diprediksi akan panas sebelumnya. Sebab, Arseto memang sedang dalam sorotan karena pemiliknya merupakan putra Soeharto, Sigit Harjoyudanto. Saat itu, semua yang berbau Soeharto memang berujung panas karena banyak tuntutan reformasi.

Benar saja, pertandingan itu justru penuh dengan mahasiswa di tribune. Sepanjang pertandingan, bahkan teriakan, “reformasi dan hidup mahasiswa” nyaring. Penonton seolah tak peduli hasil pertandingan antara Arseto vs Pelita Jaya di Stadion Sriwedari itu.

Harian Republika edisi Selasa, 6 Mei 1998 menggambarkan kalau saat itu situasi mulai panas pada babak kedua. Penonton yang awalnya di tribune tiba-tiba menerobos masuk ke lapangan dan menjebol pagar. Bentrok akhirnya pecah.

Beberapa sisi tribune Stadion Sriwedari terbakar. Para pemain Arseto Solo maupun Pelita Jaya berhamburan. Pertandingan pun terpaksa dihentikan. Sampai sekarang, kejadian itu dikenang sebagai Rabu Kelabu di Solo.

“Ribuan penonton yang berada di tribun terbuka menyerbu masuk ke tengah lapangan sambil melakukan pelemparan batu, potongan kayu dan besi yang ditujukan kepada pemain ketika pertandingan babak kedua sekitar sepuluh menit lagi akan berakhir,” tulis laporan pandangan mata Republika.

Nostalgia Hari Ini: Rabu Kelabu di Markas Arseto Solo, Stadion Sriwedari

Liga pun Bubar

Kejadian di Stadion Sriwedari itu bukan cuma menghentikan pertandingan Arseto Solo vs Pelita Jaya, tapi seluruh kompetisi. Kompetisi benar-benar berhenti pada 25 Mei 1998 akibat kerusuhan massal melebar di sejumlah daerah.

“Dari awal saya sudah menyarankan kompetisi dihentikan. Seperti yang terjadi di Solo, kerusuhan terjadi bukan karena masalah sepak bola, tapi unsur politis yang masuk. Kalau unsur politis sudah masuk, lebih baik kompetisi dibubarkan saja,” ucap Nurdin Halid, yang saat itu menjabat sebagai manajer tim Pelita.

Liga Indonesia lantas akhirnya dibuka kembali pada 1 November 1998 setelah Agum Gumelar terpilih sebagai Ketum PSSI. Agum memberikan subsidi kepada para klub agar bisa bangkit setelah kompetisi lumpuh sebelumnya.

[better-ads type=’banner’ banner=’156417′ ]

- Advertisement -

More From Author

- Advertisement -

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img