Ofisial Persebaya: Wes Aku Pasrah, Mati juga Gak Apa-Apa

BACA JUGA

Football5Star.com, Indonesia – Salah satu ofisial Persebaya, Depri menceritakan betapa mencekamnya suasana ketika tim ingin keluar dari Stadion Kanjuruhan, 1 Oktober lalu. Dia bahkan sempat memasrahkan dirinya bila harus meninggal dunia dalam kejadian tersebut.

Suasana mencekam memang sempat dirasakan oleh skuat Bajul Ijo sesaat setelah menang atas Arema FC di Kanjuruhan. Namun lebih mengerikan lagi bagi para ofisial tim. Ketika pemain Persebaya menumpangi rantis, mereka hanya menaiki bus Brimob untuk pulang.

Persebaya Sempat Khawatir Rantis Dibakar atau Digulingkan
- Advertisement -

Depri yang merupakan Security Officer Persebaya itu menggambarkan suasananya. “Sampai di truk itu sepurane (minta maaf) bu, minta doa sama istriku, sepurane ma kalau ada salah. Saya ini di antara hidup dan mati,” ungkap Depri dalam kanal YouTube Persebaya.

Leo Lelis: Ini Bukan Bercanda
Ofisial Persebaya: Wes Aku Pasrah, Mati juga Gak Apa-Apa 4

“Ada peristiwa yang sangat benar-benar gak bisa lupakan ketika ada kayu panjang, yang saya ingat kayu itu terbakar, langsung dimasukkan ke truk kami. Serangan itu dari belakang, depan kanan kiri, benar-benar saya rasakan, truk brimob kan terpal ya, kaya ada yang melempar saking ketakutan sampai tak kerasa apa-apa,” sambungnya.

Ofisial Persebaya Sempat Tertahan

- Advertisement -

Ofisial Persebaya, kata Depri, sempat tertahan sampai setengah jam di dalam truk tersebut. Brimob yang ada di dalam truk itu pun digambarkannya juga panik dan meminta bantuan karena diserang oknum Aremania.

Ofisial Persebaya: Wes Aku Pasrah, Mati juga Gak Apa-Apa
Ofisial Persebaya: Wes Aku Pasrah, Mati juga Gak Apa-Apa 5

“Kami itu bertahan hampir setengah jam benar-benar tak tahu harus ngapain, bapak-bapak Brimob cuma bilang bantuannya endi iki, saya juga jadi di situ mikir, ya Allah aku di antra hidup dan mati gitu kan,” papar dia.

- Advertisement -

“Ada tameng begitu kan buat selamatkan diri, dilempar habis-habisan, lalu retak, lalu pakai tameng utuh lagi, dilempar terus sobek, lalu pakai yang baru lagi, dilempar lagi, aku langsung tak taro tamengnya, wes aku pasrah wes aku mati ya rapopo,” tutup dia.

- Advertisement -

More From Author

- Advertisement -

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img