[KOLOM] PSSI Butuh Road Map, Bukan Sekadar Ketum Baru

BACA JUGA

Football5Star.com, Indonesia – If there’s a change, there’s a hope. Perubahan memang selalu menjanjikan harapan. Di Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI, 16 Februari nanti, perubahan itu adalah keniscayaan. Mochamad Iriawan dipastikan tak lagi menjabat ketua umum karena tak lagi mencalonkan diri untuk periode berikutnya.

Perubahan di tampuk pimpinan tertinggi itu sangatlah penting. Bagaimanapun, ketum adalah nakhoda yang akan memimpin PSSI hingga 4 tahun ke depan. Dialah sang penentu arah perjalanan sepak bola Indonesia. Apakah akan maju, jalan di tempat atau malah mundur?

Mochamad Iriawan dipastikan tak lagi memimpin PSSI.
pssi.org
- Advertisement -

Komite Pemilihan (KP) beberapa waktu lalu sudah mengumumkan daftar calon ketua umum, wakil ketua umum, dan anggota komite eksekutif periode 2023-2027. Ada begitu banyak nama di sana degan beragam latar belakang. Tekad mereka, setidaknya sebatas lisan, tentu saja memajukan sepak bola Indonesia.

Kiranya tak perlu kita membahas satu per satu calon yang akan bertarung pada kontestasi nanti. Bukannya tak penting, tapi rasanya ada hal yang jauh lebih penting untuk dibicarakan tapi justru luput dari wacana yang beredar saat ini. Siapa pun yang terpilih nanti, punya satu PR utama. Itu adalah membuat sebuah road map ‘peta jalan’.

Arti Penting Road Map PSSI

- Advertisement -

Saat ini, setiap kali ada diskusi soal sepak bola Indonesia, selalu saja mbulet. Pastilah ujung-ujungnya menyalahkan pembinaan dan kompetisi. Itu yang terjadi setelah timnas Indonesia lagi-lagi gagal juara di Piala AFF 2022 lalu. Timnas dan pelatih Shin Tae-yong justru hampir tak tersentuh.

Hal itu terjadi karena PSSI tak punya peta jalan yang jelas. Publik sepak bola Indonesia saat ini tak pernah tahu secara persis kapan Indonesia ditargetkan menguasai Asia Tenggara, kapan menjadi macan di Asia, dan kapan pula lolos ke Piala Dunia.

- Advertisement -

Saat ini, kita hanya dijejali janji-janji manis yang sebetulnya “halu”. Setiap kali akan berkiprah di sebuah ajang, pelatih Shin Tae-yong dan Ketum Mochamad Iriawan selalu mengumbar target juara. Begitu gagal, kualitas pemain yang jadi kambing hitam.

Timnas Indonesia diakui Shin Tae-yong main buruk pada leg II semifinal Piala AFF 2022.
zingnews.vn

Lalu, publik pun menyalahkan PSSI yang abai mengurusi pembinaan dan kompetisi dengan baik. Sambil melindungi timnas dan Shin Tae-yong, mereka berkata, timnas yang bagus hanya lahir dari pembinaan dan kompetisi yang bagus. Jangan harap memanen kalau tidak pernah menyemai.

Andai ada road map, itu tak bisa terjadi. Dalam peta jalan itu terlihat jelas sasaran-sasaran dan prasyarat yang harus terpenuhi pada sebuah bingkai waktu. Alhasil, ketika pelatih dan ketum menargetkan juara, publik bisa langsung menilainya. Jika prasyaratnya belum terpenuhi, tentu saja itu halu.

Kita harus membedakan antara target dan keinginan. Dalam setiap kompetisi, setiap insan olahraga pasti selalu menginginkan prestasi, juara, trofi. Itu penting untuk jadi motivasi kala bertanding. Adapun target adalah sesuatu yang telah ditetapkan sebelumnya dan harus dipenuhi semua prasyaratnya.

Bukan Hal Baru dan Sudah Disadari

Soal road map ini, Indonesia kalah satu langkah dari negeri jiran, Malaysia. Sejak 2019, mereka punya peta jalan dengan nama F:30. Sasaran utama mereka adalah tampil di Piala Dunia 2030. Di sana tertuang target di semua aspek, baik akar rumput, kompetisi, maupun timnas.

Indonesia sebetulnya tidak asing dengan hal ini. Pada 2007, Nurdin Halid meluncurkan “Visi 2020 Membangun Sepakbola Indonesia Modern Menuju Industri Sepakbola dan Pentas Dunia”. Sayangnya, visi ini gagal diejawantahkan dan lantas dicampakkan para penerusnya di induk organisasi sepak bola Indonesia tersebut.

Arti penting road map pun sebetulnya sudah disadari pemerintah. Menpora Zainudin Amali pada 2020 mengungkapkan hal tersebut sebagai tindak lanjut penerbitan Inpres No. 3 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Sepak Bola Nasional. Namun, hingga kini itu hanya sekadar wacana.

Menpora Zainudin Amali sempat menyinggung road map pembangunan sepak bola Indonesia.
kemenpora.go.id

Sebuah road map memang bukanlah sebuah kitab ramalan yang pasti dan harus terwujud. Ia adalah kompas, pemandu arah. Road map ini haruslah dibuat realistis sesuai dengan masalah dan tantangan yang ada. Alhasil, fokus pada setiap periode bisa jadi akan berbeda, sesuai dengan kondisi dan anggaran.

Misalnya, pada tahap awal, pembenahan akar rumput jadi titik berat. Berikutnya, kompetisi yang juga menyasar profesionalisme klub. Terakhir, barulah fokus pada prestasi timnas. Sangat absurd bila PSSI menargetkan timnas bicara di Asia, sementara akar dumput dan kompetisi belum dibenahi.

Road Map untuk Menjaga Ekspektasi

Road map juga sangat penting untuk menjaga nalar para suporter. Mereka akan lebih realistis dalam meletakkan ekspektasi. Ketika fokus utama road map adalah pembinaan, tentu mereka tak bisa menuntut timnas juara. Bukankah para pemain yang masih dalam kawah candradimuka tidak langsung berada di timnas senior?

Sudah barang tentu, sebuah road map baru akan mengobrak-abrik tatanan yang ada. Salah satu yang mungkin terusik adalah kontrak Shin Tae-yong sebagai pelatih timnas. Apakah worth it menggaji pelatih 1 juta dolar AS (sekitar Rp15 miliar) per tahun untuk sebuah tim yang materinya saja pas-pasan dan sulit juara?

Shin tae-yong menyebut Vietnam menang karena sudah terbiasa main di Stadion My Dinh.
zingnews.vn

Patut dicatat, Shin Tae-yong selalu saja mengeluhkan kualitas pemain. Sebagai pelatih timnas, terutama di sektor senior, dia memang seharusnya menerima pemain jadi, bukan lantas mengajari mereka hal-hal mendasar. Pada situasi itu, satu pertanyaan muncul. Sudah tepatkah penunjukan STY sebagai pelatih saat ini?

Pertanyaan itu penting karena bisa dikorelasikan dengan pembenahan akar rumput. Apakah sebaiknya uang Rp15 miliar per tahun itu justru dialokasikan ke sana? Satu dekade silam, Timo Scheunemann pernah melontarkan gagasan pembentukan 6 Akademi Nusantara dengan biaya total per tahun sebesar Rp17 miliar. Namun, gagasan itu ditolak oleh PSSI.

Kini, pada masa kampanye hingga jelang KLB nanti, kita bisa melihat apakah ada calon ketum yang memiliki rancangan road map untuk 10-20 tahun ke depan? Bila tidak ada, siapa pun yang terpilih, kiranya perubahan di tampuk pimpinan PSSI nanti tak akan menumbuhkan harapan apa pun. Sepak bola Indonesia tidak akan ke mana-mana.

- Advertisement -

More From Author

- Advertisement -

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img