Lupakan Naturalisasi, Singapura Serius Benahi Kompetisi Junior demi Piala Dunia 2034

BACA JUGA

Banner Gamespool

Football5Star.com, Indonesia – Timnas Singapura dikenal sebagai pelopor naturalisasi pemain di Asia Tenggara. Pada awal 2000-an, Asosiasi Sepak Bola Singapura (FAS) rajin menaturaliasi pemain asing guna memperkuat The Lions. Namun, mereka kini ingin mengubah sistem dengan berpaling pada pembenahan kompetisi junior.

Pada awal 2000-an, FAS meluncurkan program Foreign Sports Talent (FST) yang jadi payung untuk menaturalisasi para pemain asing atau pemain keturunan yang berada di luar negeri. Hasilnya, hingga 2008 ada 12 pemain yang terjaring dan sempat membela timnas Singapura.

Song Ui-yong jadi satu-satunya pemain naturalisasi di timnas Singapura jelang Piala AFF 2020.
fas.org.sg
- Advertisement -

FAS meluncurkan program tersebut guna mendongkrak prestasi The Lions. Mereka memanfaatkan kelonggaran FIFA yang hanya mensyaratkan sang pemain hanya perlu 2 tahun tinggal di negara yang akan dibelanya. Program itu lantas mengalami kendala setelah FIFA menaikkan syarat tinggal menjadi 5 tahun.

Pemain naturalisasi baru kembali mewarnai skuat The Lions jelang Piala AFF 2020. Song Ui-yong, gelandang kelahiran Korea Selatan, masuk skuat setelah resmi menjadi warga negara Singapura per 20 Agustus 2021. Itu pun, dia tak melalui program FST karena memang sudah 10 tahun tinggal di Singapura.

Singapura Gandeng LaLiga

Program FST sepertinya sudah mulai dilupakan FAS. Demi membentuk timnas yang kuat, mereka mulai berpaling pada program lain. Salah satunya adalah Unleash The Roar (UTR) pada Maret 2021. Berkebalikan dengan FST, UTR justru lebih berpaling pada pengelolaan sepak bola di level junior.

Langkah konkretnya, FAS membuat sebuah kompetisi junior lewat program School Football Academy (SFA). Montfort, Sengkang, Singapore Sports School, Anglo-Chinese (Barker), Queensway, Serangoon Garden, Meridian, St Patrick’s, Assumption English, dan Jurongville adalah 10 sekolah yang akan dilibatkan pada 2022. Per 2023, tim-tim SFA ini akan bersaing di kompetisi baru, terpisah dari National School Games (NSG).

Program Unleash The Roar diharapkan mampu membawa Singapura ke Piala Dunia 2034.
fas.org.sg

Mereka tak main-main dalam mengelola kompetisi junior ini. Dana antara 1 juta hingga 1,5 juta dollar Singapura akan dikucurkan setiap tahunnya untuk menggelar kompetisi elite junior yang baru itu. Mereka juga menggandeng LaLiga dalam menjalankan program ini. Kerja sama juga dilakukan dengan Borussia Dortmund dan Maribyrnong College.

Pihak LaLiga akan mengirimkan para pelatih, ilmuwan olahraga, dan analis ke Singapura. Menurut Juan Florit dari LaLiga, mereka datang bukan semata-mata untuk memberikan pengetahuan, melainkan juga mempekuat para pelatih lokal yang akan jadi ujung tombank dalam membangun ekosistem baru yang lebih baik.

FAS Berharap Panen Pemain Bagus

Pada praktiknya, FAS juga bekerja sama dengan Kementerian Olahraga Singapura. Adapun target mereka adalah mendapatkan pemain-pemain mumpuni yang bisa membawa The Lions lolos ke putaran final Piala Dunia 2034.

“Bagi Singapura, kami harus membangun fondasi kuat untuk meningkatkan permainan kami dan tampil di level tertinggi. Inisiatif yang diumumkan hari ini bukan hanya memberikan akses pelatihan dan kompetisi terbaik bagi para talenta bagus,” kata Eric Chua, Ketua Komite Eksekutuf UTR seperti dikutip Football5Star.com dari The Strait Times.

Singapura berharap memiliki banyak talenta mumpuni untuk lolos ke Piala Dunia 2034.
straitstimes.com

Lebih lanjut, Chua mengungkapkan, “Inisiatif ini juga membuka jalan bagi para talenta bagus untuk mengembangkan kemampuan mereka di beberapa institusi sepak bola papan atas di luar negeri.”

Target FAS pun tak main-main. Mereka ingin meningkatkan jumlah pemain U-15 hingga U-17 yang mendapatkan pelatihan terbaik hingga tiga kali lipat. Jika sekarang hanya ada 500 talenta yang menerima pelatihan elite, nantinya diharapkan meningkat jadi 1.400 talenta.

Langkah FAS dengan program Unleash The Roar bukan tanpa kritik. Banyak pihak, terutama dari sekolah dan akademi sepak bola, yang menilai program ini akan melemahkan NSG sehingga kemudian timbul kesenjangan sangat lebar. Mereka berharap FAS justru menaikkan kualitas sekolah dan akademi yang sudah ada.

- Advertisement -

More From Author

- Advertisement -

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img