Trio MMN, Messi, Mbappe, Neymar Bisa Kalahkan Catatan MSN?

BACA JUGA

Football5star.com, Indonesia – Trio MMN, Messi, Mbappe, Neymar bakal jadi kekuatan Paris Saint Germain (PSG) pada musim ini. Dengan resminya Lionel Messi bergabung ke PSG, ia akan kembali berduet dengan sahabat baiknya, Neymar dan ditopang peraih titel Piala Dunia 2018, Kylian Mbappe.

Trio MMN, Messi, Mbappe, Neymar menjadi triumvirat baru yang diprediksi bakal mencetak banyak gol di Ligue 1 ataupun kompetisi Liga Champions. Kemunculan Trio MMN juga diprediksi bisa kalahkan catatan trio MSN, Messi, Suarez dan Neymar di Barcelona beberapa musim lalu.

Trio MMN, Messi, Mbappe, Neymar Bisa Kalahkan Catatan MSN
Marca
- Advertisement -

Trio MMN akan bekerja keras untuk meneruskan warisan trisula MSN yang begitu legendaris. Trio MSN tercipta saat Suarez datang ke Barcelona dari Liverpool pada 2014. Tiga musim trio ini membuat Barcelona menjadi tim yang sulit dikalahkan.

Dikutip Football5star.com dari data Whoscred, Rabu (11/8/2021), Messi, Suarez dan Neymar selama tiga musim di Nou Camp telah mencetak 379 gol dan 173 assist.

- Advertisement -

Messi mencetak 153 gol dari 158 pertandingan, Suarez dengan 121 gol dari 147 pertandingan dan Neymar mengoleksi 105 gol dari 145 laga bersama Barcelona.

Catatan gol itu membantu Barcelona memenangkan banyak gelar, mulai dari dua gelar Liga Spanyol, tiga Copa del Rey, Supercopa de Espana, Liga Champions, Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antarklub, sapu bersih gelar juara dilakukan trio MSN.

Beban Berat Trio MMN

- Advertisement -

Chemistry yang sudah terbangun antara Messi dan Neymar tentu jadi pekerjaan rumah bagi Mbappe. Pemain asal Prancis ini memiliki beban cukup berat di musim pertamanya bermain bersama Messi dan Neymar.

Luis Suarez saat awal bergabung di Barca mampu membangun chemistry dengan cukup cepat. Pada musim pertamanya trio MSN, ketiganya mampu mencetak lebih dari 100 gol, tepatnya 122 gol di semua kompetisi.

Trio MMN, Messi, Mbappe, Neymar Bisa Kalahkan Catatan MSN
Sky Sports

Tidak seperti saat trio MSN terbentuk, usia ketiga pemain ini tak jauh berbeda. Saat ini, Mbappe menjadi yang paling muda dan Messi sudah memasuki usia tua, 34 tahun. Akan muncul pertanyaan seberapa kuat ketiganya bermain bersama untuk mencetak gol bagi tim?

Belum lagi kondisi naik turun Neymar di PSG. Neymar diganggu cedera yang datang silih berganti. Selama empat musim di Paris, Neymar tercatat absen 20 pertandingan di Ligue 1. Di musim lalu, Neymar hanya mencetak 17 gol di Ligue 1, catatan paling sedikit Neymar sejak 2013-14.

Statistik Mbappe dan Neymar di PSG pun belum menyentuh 100 gol. Gol keduanya di total akan menjadi 46 gol, dengan total gol PSG musim lalu sebanyak 92 gol di Ligue 1 dan Liga Champions.

Peran Pochettino

Mauricio Pochettino bikin pelatih lain jadi iri. Baru seumur jagung melatih di PSG, Mauricio Pochettino mendapat kesempatan melatih pemain terbaik dunia, Lionel Messi.

Kedatangan Lionel Messi ke PSG menjadilkan tim berjuluk Les Parisiens menjelma jadi tim terkuat di dunia. Di posisi penjaga gawang, ada kiper peraih gelar EURO 2020, Gianluigi Donnarumma. Di jantung pertahanan, ada pemain berpengalaman, Sergio Ramos.

Di sektor tengah ada pemain peraih titel Liga Champions bersama Liverpool, Georginio Wijnaldum. Di depan sudah jaminan mutu, ada Neymar, Kylian Mbappe, di tambah Lionel Messi menjadikan PSG bak Goliath di antara tim-tim Liga Prancis musim ini.

Mauricio Pochettino Latih Messi, Beruntung atau Buntung?

Bahkan bisa dibilang PSG musim ini memiliki kekuataan lebih besar dibanding Real Madrid era Los Galaticos pada era 2000-an. Dengan kekuataan merata di semua lini, harusnya PSG bisa sampu gelar musim ini, termasuk gelar Liga Champions yang jadi dambaan sang pemilik klub, Nasser Al-Khelaifi.

Saat masih melatih di Spurs dan Southampton, Mauricio Pochettino dikenal sebagai pelatih dengan gaya menyerang. Seperti Pep Guardiola, Pochettino sangat senang jika anak asuhnya mampu menguasai bola lebih banyak. Hal positif yang sangat menguntungkan dirinya dan Messi.

Menilik dari gaya permainannya di Spurs, Pochettino pun sama dengan Guardiola yang selalu membangun serangan dari kaki ke kaki dari lini pertahanan. Mirip gaya tiki taka.

Jika di Spurs, Pochettino mengandalkan Toby Alderweireld untuk membanyn serangan. Maka di PSG, Sergio Ramos menjadi pemain kuncinya. Pochettino akan selalu bersandar pada possession, operan-operan pendek, dan pressing tinggi.

Yang harus diperhatikan saat Pochetino menerapkan ofensif ialah resiko untuk pemainnya kehilangan bola. Dan biasanya ia akan menerapkan taktik counterpressing. Pada kondisi inilah peran dari full back anyar Achraf Hakimi menjadi penting.

Hakimi harus segera berlari turun menutup ruang kosong saat pemain lain kehilangan bola. Yang menjadi sedikit berbeda dari gaya melatih Pocchetino ialah dirinya tak suka pemainnya bermain melebar. Baginya, menjaga jarak sekecil mungkin akan membuat lapangan menjadi sempit.

Dengan gaya seperti itu, sosok Messi akan sangat diperlukan Pochetino. Karena pelatih Argentina ini lebih suka menyebut sayapnya tersebut sebagai penyerang yang melebar.

- Advertisement -

More From Author

- Advertisement -

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img