Tujuh Laga Tak Menang di Anfield, Ada Apa dengan Liverpool?

BACA JUGA

gamespool

Football5Star.com, Indonesia – Liverpool kembali menelan kekalahan di kandang sendiri, Stadion Anfield. Menjamu Chelsea, Jumat (5/3/2021) dini hari WIB, tim asuhan Juergen Klopp takluk 0-1 gara-gara gol tunggal Mason Mount saat babak pertama bersisa 3 menit.

Kekalahan itu jadi noktah hitam dalam sejarah Liverpool. Sejak klub itu berdiri pada 1892, inilah kali pertama The Reds mengalami lima kekalahan beruntun di Stadion Anfield. Sebelumnya, mereka ditekuk Burnley, Brighton & Hove Albion, Manchester City, dan Everton.

- Advertisement -

Bila ditarik ke belakang, Liverpool kini gagal memenangi tujuh laga beruntun. Sebelum lima kekalahan beruntun, The Reds kehilangan poin ketika menjamu West Bromwich Albion dan Manchester United. Dalam 7 laga itu, tim asuhan Klopp juga hanya membuat 2 gol. Itu pun salah satunya dari eksekusi penalti ketika kalah 1-4 dari Manchester City.

Hal yang mengejutkan, Liverpool takluk dari tim-tim yang sudah lama tak menang di Anfield. Burnley meraih kemenangan pertama di sana sejak 1974, Brighton sejak 1983, Manchester City sejak 2003, dan Everton sejak 1999.

- Advertisement -

Tentu saja hal itu menimbulkan tanda tanya. Ada dengan Liverpool? Apalagi, The Reds sebelum lima kekalahan beruntun itu tak terktaklukkan di Anfield dalam 68 laga beruntun pada pentas Liga Inggris. Mengapa mereka kini tak ubahnya klub semenjana yang di kandang sendiri saja sulit menang?

Semata karena Krisis di Lini Belakang?

Berbagai teori bermunculan. Kebanyakan yakin hal itu terjadi karena badai cedera pemain, terutama di lini belakang. Faktanya, Fabinho dan Ozan Kabak saat lawan Chelsea adalah kombinasi ke-19 di pertahanan Liverpool sepanjang musim ini.

- Advertisement -

Akan tetapi, rasanya terlalu naif menilai performa buruk Liverpool semata-mata karena lini pertahanan yang compang-camping. Bagaimanapun, mereka hanya 9 kali kebobolan lebih dari 1 gol dalam 39 laga yang telah dilakoni di semua ajang kompetisi.

Tak dapat dimungkiri, kehilangan Virgil van Dijk membuat pertahanan Liverpool goyah. Namun, patut dicatat, saat dibantai 2-7 oleh Aston Villa dan hanya menang 4-3 atas Leeds United, bek asal Belanda itu masih berada di jantung pertahanan.

Ozan Kabak dan Fabinho jadi kombinasi ke-19 di pertahanan Liverpool musim ini
Getty Images

Lalu, dalam rentetan 5 kekalahan beruntun di kandang sendiri, hanya Manchester City dan Everton yang mampu lebih dari sekali menjebol gawang Liverpool. The Cityzens menang 4-1, sedangkan The Toffees menang 2-0.

Menurut Tim Sherwood, eks kapten Tottenham Hotspur, titik lemah Liverpool bukan pada personel di lini pertahanan, melainkan cara mereka bertahan. Dia mempertanyakan garis pertahanan yang tetap tinggi saat menghadapi Chelsea.

“Garis pertahanan Liverpool terlalu tinggi. Saya tak habis pikir mereka bertahan begitu tinggi. Anda tak bisa melakukan itu menghadapi Timo Werner. Kabak dan Fabinho harus tahu, apa kekuatan Tmo Werner? Kecepatannya. Jadi, turunlah 10 yard. Jika itu Giroud, tetaplah dengan garis pertahanan tinggi,” urai Sherwood seperti dikutip Football5Star.com dari Optus Sport.

Ketajaman Liverpool Menurun

Dalam sebuah pertandingan sepak bola, kekalahan bukan hanya terjadi karena gawang dibobol lawan. Kekalahan terjadi juga karena kegagalan menjebol gawang lawan. Fakta ini juga yang berlaku di Liverpool saat ini.

Tak peduli berapa pun gol yang dibuat lawan, The Reds akan tetap memenangi laga andai mampu mencetak lebih banyak gol. Itulah yang berlaku saat mereka menjamu Leeds pada pekan pertama Premier League. Itu juga yang ditunjukkan Bayern Munich di Liga Jerman. Mereka jarang clean sheet, tapi tetap mampu mendulang kemenangan demi kemenangan.

Sayangnya, ketajaman itu tak lagi terlihat pada saat ini. Mohamed Salah memang masih memimpin daftar pemain tersubur Premier League dengan 17 gol. Namun, sepanjang 2021, dia hanya sekali membobol gawang lawan. Itu pun dari titik penalti.

Ketajaman Sadio Mane menurun drastis dibanding musim lalu.
Getty Images

Dari total gol saat ini, Salah bisa dibilang konsisten. Pasalnya, dia mencetak 19 gol sepanjang musim lalu dan 22 gol pada musim 2018-19. Penurunan paling drastis justru dialami Sadio Mane yang baru mengemas 7 gol. Padahal, pemain asal Senegal itu mampu mendulang 18 gol pada musim 2019-20.

Masalah di lini depan ini disoroti Michael Owen, eks striker Liverpool. Dia geleng-geleng kepala melihat Salah cs. hanya mampu mendapatkan satu peluang sepanjang 90 menit lawan Chelsea.

“Mereka benar-benar tak dapat mencetak gol. Mereka terlihat tak mampu mencetak gol. Itulah masalahnya,” kata Owen. “Selain pilihan penyelesaian akhir yang buruk, mereka juga tak mencetak cukup banyak peluang.”

Liverpool Harus Cetak Lebih Banyak Peluang

Owen bahkan tak ragu menyebut masalah Liverpool di lini depan lebih parah dibanding masalah di lini pertahanan. Secara tidak langsung, eks striker timnas Inggris itu menilai lini depan sebagai masalah utama The Reds.

“Pertahanan mereka bukanlah yang terburuk di dunia. Mereka hanya kebobolan satu gol per laga,” ujar dia. “Kita bisa bicara soal para pemain belakang yang cedera dan tentu saja itu berpengaruh. Namun, dengan ketajaman saat ini, mereka perlu menciptakan lebih banyak peluang.”

Ulasan Owen menarik untuk dikulik dengan melihat statistik Liverpool dalam beberapa musim terakhir. Akurasi tembakan para pemain The Reds sebetulnya tidak anjlok jauh. Musim ini, akurasi mereka 36% atau hanya 3% di bawah musim lalu dan musim sebelumnya. Itu bahkan hanya 1% di bawah musim 2017-18.

Trio Firmino-Salah-Mane kini harus bekerja lebih keras guna mengompensasi masalah di lini belakang.
teamtalk.com

Statistik jumlah tembakan dan peluang emas per laga pun bisa dikatakan sama. Musim ini, Liverpool rata-rata melepaskan 15 tembakan dan membuat 2 peluang emas per laga. Dalam tiga musim sebelumnya, mereka melepaskan 15-17 tembakan per laga dan mencetak 2 hingga 2,3 peluang emas per laga.

Satu hal yang sangat mencolok adalah rekor pertahanan. Liverpool saat ini kebobolan 1,3 gol per laga dengan rasio clean sheet hanya 25% dari total laga. Dua musim lalu, rataan kebobolan mereka di bawah 1 dan rasio clean sheet mencapai 40% dan 55%.

Sangat jelas terlihat bahwa masalah utama Liverpool ada di lini pertahanan. Namun, betul seperti kata Owen, Klopp tak bisa melulu mengutak-atik lini belakang. Akan lebih efektif bila The Reds menonjolkan kelebihan di sektor lain, yaitu lini depan. Ya, lini depan Liverpool mengompensasi buruknya performa lini belakang.

Juergen Klopp pun tak menutup mata soal masalah di lini depan. Keberanian menarik Salah saat lawan Chelsea adalah buktinya. Lalu, dia pun meminta para pemain untuk lebih bagus lagi dalam memanfaatkan momen-momen emas di lapangan.

[better-ads type=’banner’ banner=’156408′ ]

- Advertisement -

More From Author

- Advertisement -

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img