[KOLOM] Wasit Jangan Curi Pertunjukan di Liga 1 2022-23

BACA JUGA

Gamespool new banner 2

Football5Star.com, Indonesia – Geliat sepak bola Indonesia sudah benar-benar kembali terasa setelah Liga 1 2022-23 bergulir pada dua pekan lalu. Dalam dua pekan, ingar-bingar para suporter dan performa para pemain sudah menghiasi stadion yang jadi kandang klub-klub Liga 1. Sayangnya, ada coreng dari wasit.

Dalam dua pekan, Liga 1 2022-23 sudah menyajikan banyak hal positif. Salah satunya, tengok saja torehan 59 gol dalam 18 pertandingan. Pekan pertama, tercipta 29 gol, sementara pekan ke-2 dihiasi 30 gol. Total 59 gol itu 15 gol lebih banyak dari 2 pekan awal Liga 1 2021-22.

- Advertisement -

Persaingan pun berlangsung seru. Beberapa kejutan tersaji. Sebut saja Barito Putera yang digasak 8 gol tanpa balas oleh Madura United pada pekan pertama. Lalu, kemenangan Madura United di kandang Persib Bandung dan PSM Makassar yang menaklukkan Bali United pada pekan kedua.

Sayangnya, di tengah berbagai catatan menarik itu, ada beberapa kontroversi soal wasit. Pada pekan pertama saja, dua insiden menyita perhatian. Pertama, Yeni Krisdianto yang menghadiahkan penalti bagi PSIS Semarang saat melawan RANS Nusantara. Kedua, Fariq Hitaba tak memberikan penalti saat bola mengenai tangan pemain Bali United pada laga melawan Persija Jakarta.

- Advertisement -

Dua insiden itu jelas-jelas mempengaruhi hasil akhir. Andai Yeni tak memberikan penalti kepada PSIS, RANS bisa saja menang karena kemudian Makan Konate mencetak gol. Lalu, bila saja Fariq menghadiahkan penalti, Persija sangat mungkin pulang dengan 1 poin dari markas Serdadu Tridatu.

Keluhan Terus Bermunculan

Pekan berikutnya, keluhan soal kinerja wasit kembali muncul. Marc Klok, gelandang Persib, mempertanyakan putusan sang pengadil yang tak memberikan penalti saat Ezra Walian dilanggar di kotak penalti. Menurut dia, andai penalti, Persib bisa unggul 2-0 dan Sape Kerrab akan sulit untuk bangkit.

- Advertisement -

Dari Makassar, pelatih Bernardo Tavares yang mencak-mencak. Dia mempertanyakan kepemimpinan wasit Gideon F. Dapaherang. Pelatih asal Portugal itu berang karena Gideon seperti membiarkan para pemain Juku Eja dikasari pemain-pemain Bali United. Meskipun Juku Eja menang, dia sama sekali tak senang.

Mengenai putusan-putusan bermasalah dari pengadil, Rahmad Darmawan, pelatih RANS Nusantara, bisa memakluminya. Namun, dia menekankan, pihaknya menginginkan pertandingan berjalan dengan adil. Itu sebabnya, dia sempat melontarkan pertanyaan soal penggunaan VAR di Liga 1.

Bernardo Tavares protes keras karena wasit dinilai membiarkan para pemain Bali United mengasari pemain PSM Makassar.
psmmakassar.co.id

Kontroversi soal pengadil di lapangan tak lepas dari pengamatan PSSI. Ketum PSSI Mochamad Iriawan menegaskan, pihaknya akan mengusut insiden-insiden pada pekan pertama. Lalu, setelah pekan kedua, Ketua Komite Wasit PSSI, Ahmad Riyadh, terang-terangan menyoroti kinerja Abdullah yang memimpin laga Persib vs Madura.

Baik Iwan Bule maupun Ahmad Riyadh sama-sama berjanji akan menindak tegas wasit yang terbukti melakukan kesalahan fatal. Ahmad secara gamblang mengungkapkan, Abdullah bisa saja diistirahatkan sementara karena dinilai tak cakap saat memimpin laga di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).

PSSI Tanpa Antisipasi

Janji keduanya patut dinantikan karena menghukum wasit yang melakukan kesalahan memang sudah jadi kewajiban PSSI, dalam hal ini komite wasit. Namun, ketika dua pekan awal Liga 1 2022-23 diwarnai berbagai protes soal sosok pengadil di lapangan, satu pertanyaan muncul. Mengapa PSSI tak bisa mengantisipasinya?

Pertanyaan itu muncul karena kontroversi soal korps baju hitam bukanlah hal baru. Musim lalu pun begitu banyak protes yang bermunculan dari seri pertama hingga seri terakhir. Pada seri ke-4 dan 5 yang berlangsung di Bali saja, setidaknya ada 5 insiden kontroversial yang jadi buah bibir.

Berbagai insiden yang terjadi pada musim lalu sudah seharusnya jadi bahan evaluasi untuk kemudian diantisipasi pada musim berikutnya. Bagaimanapun, kecakapan korps baju hitam juga sangat menentukan kualitas kompetisi Liga 1. Lagi pula, bukankah mereka menjalani seleksi dan penyegaran sebelum Liga 1 2022-23 bergulir?

Wasit Fariq Hitaba diprotes kubu Persija karena tak menghukum penalti handball pemain Bali United.
jawapos.com

Tiupan peluit Yeni Krisdianto dengan memvonis David Laly melanggar Oktavianus Fernando pada laga pembuka sejatinya adalah tamparan keras bagi PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB). Ditambah lagi putusan Fariq Hitaba pada malam harinya di Stadion Kapten I Wayan Dipta. Jelas-jelas ada yang salah dengan para pengadil.

Tak bisa dimungkiri, wasit adalah bagian penting dalam permainan sepak bola. Namun, janganlah ia lantas mencuri pertunjukan. Seharusnya sang protagonis, tokoh utama, tetaplah para pemain. Lapangan adalah panggung bagi pemain untuk jadi sorotan dengan aksi-aksi memukau. Janganlah wasit kemudian mencuri pertunjukan dengan putusan kontroversial.

Wasit Indonesia Bermasalah

PSSI tak bisa menutup mata terhadap kualitas wasit yang diturunkan pada gelaran Liga 1 2022-23. Harus ada tindakan nyata untuk mendongkrak mereka. Bukan apa-apa, kualitas pengadil dari Indonesia jelas-jelas bermasalah. Tengok saja dua insiden di level AFF.

Pada gelaran Piala AFF U-23 di Phnom Penh, Kamboja, Februari lalu, Yudi Nurcahya dikritik habis oleh pelatih Laos, Michael Weiss. Yudi dianggap tak cakap dan tak jeli melihat insiden yang terjadi di lapangan. Pelatih asal Jerman itu secara khusus menunjuk putusan penalti untuk Thailand.

“Itu kontak yang minimum. Pemain Thailand berlari ke arah pemain Laos, lalu terjatuh. Sama sekali tak ada peran bek Laos. Wasit benar-benar bermasalah. Kesalahan kiper dan putusan wasit memberi Thailand hadiah,” kata pelatih asal Jerman itu seperti dikutip dari Zing.

Pertengahan Juli lalu, di Piala AFF U-19 2022, wasit Indonesia kembali jadi sorotan karena membuat kesalahan fatal. Aprisman Aranda tak mengesahkan gol Kamboja pada menit ke-76 saat lawan Laos. Kejadiannya mirip tendangan Frank Lampard saat lawan Jerman di Piala Dunia 2010. Gara-gara itu, kamboja kalah 1-2.

Putusan fatal Aprisman Aranda pun membuat AFF harus meminta maaf. Melalui surat yang ditandatangani Sekjen Winston Lee, AFF mengakui Aprisman melakukan kesalahan dengan tak mengesahkan gol pada menit ke-76 tersebut. Namun, itu tentu saja tak lantas mengubah hasil akhir. Kamboja tetap kalah 1-2 dari Laos.

Peringatan Bahaya untuk PSSI

Kepemimpinan Yudi Nurcahya dan Aprisman Aranda yang jadi pergunjingan di ASEAN adalah peringatan bahaya untuk PSSI. Ditambah lagi putusan Fariq Hitaba saat Bali United vs Persija Jakarta pada pekan pertama Liga 1 2022-23. Bukan apa-apa, ketiganya adalah wasit berlisensi FIFA.

Logikanya, pengadil dengan lisensi FIFA harus menunjukkan kualitas sangat bagus dan jadi teladan. Mereka adalah tolok ukur. Jika mereka saja masih melakukan kesalahan fatal dan tak cakap memimpin pertandingan, apa yang bisa diharapkan dari rekan-rekannya yang belum berlisensi FIFA?

Wasit Aprisman Aranda jadi sorotan di Asia Tenggara saat Piala AFF U-19 2022.
bolabeten.com

Saat ini, Indonesia tercatat hanya memiliki 5 wasit berlisensi FIFA. Selain Yudi, Aprisman, dan Fariq, dua pengadil lainnya adalah Thoriq Alkatiri dan Sance Lawita. Thoriq sudah mengantongi lisensi itu sejak 2014, sementara Sance baru tahun ini mendapatkannya.

Melihat performa Yudi, Aprisman, dan Fariq, serta berbagai insiden yang terjadi pada dua pekan awal Liga 1 2022-23, PSSI haruslah mengambil langkah besar. Bukan hanya menghukum mereka yang terbukti bersalah, melainkan juga membuat langkah lain yang efektif agar performa wasit lebih baik lagi pada pekan-pekan ke depan.

Musim lalu, PSSI mengambi menugaskan pembantu wasit tambahan di belakang gawang. Kini, bisa saja peran petugas di belakang gawang ini diperbesar. Langkah lainnya, mengharuskan wasit menjelaskan putusannya kepada publik seperti yang dilakukan di beberapa negara Eropa. Kiranya ini juga akan membuat mereka lebih meningkatkan kecermatan di lapangan.

Ahmad Riyadh boleh-boleh saja menilai performa korps baju hitam sudah lebih baik dibanding pada pekan pertama. Namun, hal terpenting, PSSI harus memastikan pekan-pekan ke depan tak akan ada lagi wasit yang mencuri pertunjukan dari para pemain.

- Advertisement -

More From Author

- Advertisement -

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img