Younis Mahmoud, Legenda Mesopotamia yang Capai Puncak Karier di Jakarta

Football5star.com, Indonesia – Pada 29 Juli 2007 bertempat di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) di Jakarta, dua tim Timur Tengah bertemu di partai puncak Piala AFC. Irak melawan Arab Saudi. Melajunya Irak ke partai puncak tak lepas dari peran seorang Younis Mahmoud sang legenda Mesopotamia.

Pria bernama lengkap Younis Mahmoud Khalaf lahir di Kirkuk, Irak pada 3 Februari 1983. Ia mulai menekuni sepak bola saat bergabung di tim akademi Kahrabaa Al-Dibis pada 1996. Tiga tahun berkarier di sana, ia kemudian pindah ke klub kota kelahirannya.

Younis Mahmoud, Legenda Mesopotamia yang Capai Puncak Karier_di_Jakarta

Pindah ke tim terbesar di Kirkuk, Kirkuk FC, Mahmoud cukup cepat menunjukkan ketajamannya. Ia mampu mencetak gol pertamnya pada babak putaran ke-8 Liga Premier Irak musim 1999-2000. Saat itu Kirkuk FC menang 3-0 atas Al Kadhimiya.

Dari Kirkuk FC, ia lalu pindah ke Al-Talaba. Kariernya di level klub memang cukup mentereng namun untuk ukuran level Asia, nama Mahmoud justru bersinar saat negaranya, Irak berada di kondisi hancur lebur karena perang.

Ia mencapai reputasi sebagai striker paling mematikan di Asia di level usianya menginjak 29 tahun. Dalam rentang waktu 2004 hingga 2007, Mahmoud berhasil membawa tim nasional Irak mencapai prestasi di pentas internasional.

Pada 2004, ia berhasil membawa Irak mencapai babak semifinal Olimpiade 2004 dan tiga tahun kemudian tentu saja di Jakarta, ia membawa Irak mengangkat Piala AFC 2007.

Tak hanya mengantarkan Irak meraih gelar juara, legenda Mesopotamia ini juga berhasil menyabet gelar top skorer dengan koleksi 4 gol bersama pemain Jepang, Naohiro Takahara dan Yasser Al-Qahtani.

Hampir Bermain di Eropa

Setelah berhasil membawa Irak menjadi juara Piala AFC 2007, Mahmoud mulia dilirik sejumlah klub Eropa. Dikutip Football5star.com dari laman resmi AFC, diakui Mahmoud bahwa Marseille dan Lyon sempat ingin merekrutnya.

Marseille dan Lyon datang untuk mencoba membawa saya ke Eropa tetapi saya tidak pergi dan semua orang bertanya mengapa? Itu karena saya tidak mengerti dunia luar,” kata Mahmoud.

Younis Mahmoud, Legenda Mesopotamia yang Capai Puncak Karier di_Jakarta
the-afc.com

“Kami memiliki masalah di Irak dan salah satunya adalah kami hanya memiliki dua saluran televisi dan sekarang tentu saja berbeda kondisinya. Saya dapat tinggal di kamar saya dan saya tahu apa yang terjadi di Amerika dan negara lain,” ungkapnya.

Gagal berkarier di Eropa sempat disesali oleh Mahmoud. Ia menganggap andainya bisa bergabung ke klub Prancis, mungkin dirinya bisa mengikuti jejak idolanya, Juninho Pernambucano.

“Tapi sekarang sepanjang waktu saya berpikir, ya, Tuhan mengapa saya tidak pergi. Ketika saya bermain dengan Juninho, dia berkata bahwa saya bisa pergi ke sana dan merupakan hal normal,”

“Dia bilang saya bisa bermain di Eropa dengan mudah, tapi saya khawatir tidak bisa berbicara bahasa asing dan soal makanan. Nyatanya memang ini semua adalah masalahku,” sesal Mahmoud.

Pemain yang sudah menikah sebanyak tiga kali tersebut pada 2016 memutuskan untuk pensiun sebagai pesepak bola. Bagi publik Irak, Younis Mahmoud adalah legenda Mesopotamia yang sangat harum namanya.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More